Menlu Israel Tegaskan Perang dengan Iran Bukan Tanpa Batas

Israeli Justice Minister Gideon Saar attends a campaign event for the new centre-right "National Unity Party", or Hamahane Hamamlachti in Hebrew, in the Druze village of Hurfeish in northern Israel on October 11, 2022. - Israel's November 1 election will be its fifth vote in less than four years. (Photo by JALAA MAREY / AFP) (Photo by JALAA MAREY/AFP via Getty Images)

JAKARTA – Pemerintah Israel menyatakan tidak menginginkan konflik berkepanjangan dalam perang yang sedang berlangsung dengan Iran. Meski demikian, Israel menegaskan bahwa operasi militer akan terus berjalan hingga waktu yang dianggap tepat untuk menghentikan pertempuran bersama sekutunya, terutama Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, dalam konferensi pers yang digelar di Yerusalem. Dalam kesempatan itu, ia menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, yang datang untuk membahas perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah.

Konflik bersenjata antara Iran dan koalisi Amerika Serikat serta Israel telah memasuki hari ke-11 sejak pecah pada akhir Februari. Pertempuran tersebut tidak hanya berlangsung di wilayah Iran, tetapi juga berdampak pada sejumlah negara di kawasan Timur Tengah setelah serangan balasan Iran dilaporkan menghantam beberapa wilayah yang memiliki kaitan dengan kepentingan militer lawan.

Dalam pernyataannya, Saar menegaskan bahwa Israel tidak memiliki niat untuk mempertahankan perang dalam jangka panjang. Namun ia juga menegaskan bahwa operasi militer akan tetap berlangsung selama masih dianggap diperlukan oleh pihak Israel dan sekutunya.

“Kami akan melanjutkan hingga saat kami dan mitra kami menganggap bahwa sudah tepat untuk berhenti,” kata Saar dalam konferensi pers di Yerusalem bersama Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul yang berkunjung.

“Kami tidak menginginkan perang tanpa akhir,” imbuhnya.

Menurut pemerintah Israel, tujuan utama operasi militer yang dilakukan saat ini adalah melemahkan kemampuan strategis Iran, terutama terkait program nuklir dan pengembangan rudal balistik. Israel juga menyebut bahwa konflik tersebut berkaitan dengan upaya menekan pengaruh pemerintahan ulama di Iran.

Saar menyampaikan bahwa kondisi yang tercipta akibat konflik ini berpotensi membuka peluang bagi masyarakat Iran untuk menentukan masa depan politik mereka sendiri. Namun ia juga mengakui bahwa perubahan tersebut belum tentu terjadi selama perang masih berlangsung.

Menurutnya, kemungkinan perubahan justru dapat terjadi setelah konflik mereda apabila situasi politik di dalam negeri Iran berkembang secara berbeda.

“Ada peluang untuk menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk merebut kembali kebebasan mereka,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Israel tidak ingin hasil dari konflik ini berakhir dengan pencapaian yang setengah-setengah. Oleh karena itu, pihaknya menilai penting untuk memastikan bahwa tujuan strategis yang telah ditetapkan benar-benar tercapai.

“Kita tidak boleh melewatkan kesempatan ini dengan hasil yang parsial,” cetusnya.

Kunjungan Wadephul ke Israel dalam situasi konflik tersebut menjadi perhatian tersendiri. Ia merupakan pejabat asing senior pertama yang secara terbuka datang ke Israel sejak perang dengan Iran pecah.

Dalam pernyataannya, Wadephul menyampaikan keyakinannya bahwa Israel dan Amerika Serikat tetap membuka peluang bagi solusi diplomatik untuk menghentikan konflik yang sedang berlangsung.

Namun menurutnya, setiap upaya penyelesaian melalui jalur diplomasi harus disertai dengan kesepakatan yang lebih luas dengan Iran. Kesepakatan tersebut, kata Wadephul, perlu mencakup berbagai isu strategis yang selama ini menjadi sumber ketegangan.

Ia menyebutkan bahwa persoalan program nuklir Iran, pengembangan rudal balistik, serta dukungan Teheran terhadap kelompok milisi di kawasan menjadi bagian penting dalam pembahasan yang harus diselesaikan.

Meski demikian, pemerintah Iran sebelumnya telah menyatakan bahwa mereka belum siap menerima persyaratan yang diajukan oleh pihak Barat dan Israel terkait isu-isu tersebut.

Situasi ini membuat prospek penghentian konflik dalam waktu dekat masih belum pasti. Sementara itu, komunitas internasional terus memantau perkembangan perang yang berpotensi memperluas ketegangan di kawasan Timur Tengah. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *