Rusia Kecam Israel di PBB, Rumah Budaya di Nabatiah Hancur
Rumah Budaya Rusia di Nabatiah Hancur Kena Serangan Udara Israel
MOSKOW – Sebuah pusat kebudayaan Rusia di Lebanon selatan hancur akibat serangan udara yang dilancarkan Israel pada 8 Maret 2026. Peristiwa ini terjadi di kota Nabatiah dan memicu reaksi keras dari Kremlin, yang mengecam penghancuran fasilitas sipil tersebut sebagai tindakan agresi.
Rumah Kebudayaan Rusia di Nabatiah bukan sekadar gedung biasa. Beroperasi di bawah naungan badan federal Rossotrudnichestvo, pusat ini menjadi simbol kehadiran soft power Rusia di Lebanon. Gedung lima lantai tersebut rutin menyelenggarakan proyek sosial, pendidikan, dan promosi bahasa serta budaya Rusia bagi warga setempat. Kini, gedung tersebut dilaporkan hancur total setelah dihantam roket terarah dari Angkatan Udara Israel. Wakil Tetap Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Anna Evstigneeva, mengonfirmasi, “Gedung lima lantai, yang di lantai dasarnya terdapat Rumah Kebudayaan Rusia, hancur” (11/03/2026).
Insiden ini menambah kompleksitas hubungan Rusia dengan berbagai aktor di Timur Tengah. Meskipun hubungan Moskow dengan Israel secara diplomatik relatif stabil, serangan terhadap aset budaya Rusia di Lebanon memaksa pemerintah Rusia bereaksi keras. Evstigneeva menyampaikan kecaman langsung melalui pernyataan di Dewan Keamanan PBB pada 11 Maret, menyebut serangan tersebut sebagai agresi militer terhadap institusi yang tidak terkait konflik bersenjata. “Kami menilai ini sebagai tindakan agresi militer terhadap sebuah lembaga yang beroperasi secara eksklusif untuk tujuan kemanusiaan dan pendidikan,” tegas diplomat Rusia itu.
Pengamat menilai langkah Rusia sebagai sinyal tegas. “Dengan menyebutnya sebagai agresi militer, Rusia mengirimkan sinyal bahwa serangan ini melampaui batas,” ujar seorang pengamat. Menurutnya, serangan ini bukan sekadar kerusakan kolateral, tetapi sengaja menargetkan simbol kehadiran negara.
Insiden penghancuran Rumah Kebudayaan Rusia berpotensi memperumit upaya diplomasi di Timur Tengah dan menempatkan isu perlindungan fasilitas budaya serta diplomatik di tengah ketegangan yang semakin meningkat. Dunia internasional kini menyoroti perlunya menjaga keamanan gedung-gedung yang memiliki fungsi kemanusiaan dan pendidikan di wilayah konflik. []
Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Agnes Wiguna
