Garuda Indonesia Tertekan: Rugi Membengkak Meski Disuntik Modal Rp23,7 Triliun
JAKARTA – Kinerja keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk kembali menjadi sorotan setelah perusahaan mencatat lonjakan kerugian signifikan di tengah suntikan modal besar dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap efektivitas strategi pemulihan yang dijalankan maskapai nasional tersebut.
Sepanjang 2025, Garuda Indonesia membukukan rugi bersih sebesar 322,4 juta dolar AS atau melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Di saat yang sama, pendapatan usaha justru menurun menjadi 3,21 miliar dolar AS, meskipun perusahaan telah menerima tambahan modal sekitar Rp 23,7 triliun dari Danantara.
Kondisi tersebut mencerminkan ketidakseimbangan antara struktur biaya dan kapasitas operasional. Sebagian besar armada tidak dapat dioperasikan akibat menunggu perawatan, sehingga potensi pendapatan tidak dapat dimaksimalkan. Situasi ini memperburuk tekanan keuangan karena biaya tetap seperti sewa pesawat dan pemeliharaan tetap berjalan.
Penurunan kinerja juga terlihat dari menyusutnya pendapatan sebesar 5,9 persen. Hal ini terjadi di tengah tren pemulihan industri penerbangan pascapandemi, yang menunjukkan adanya penurunan daya saing Garuda Indonesia dibandingkan maskapai lain di kawasan.
Selain itu, beban keuangan perusahaan meningkat, ditandai dengan lonjakan denda keterlambatan pembayaran hingga 700 persen. Kondisi ini mengindikasikan adanya masalah dalam pengelolaan arus kas, meskipun perusahaan telah memperoleh tambahan likuiditas dari suntikan modal.
Sebagian dana dari Danantara diketahui dialokasikan untuk anak usaha, PT Citilink Indonesia, terutama guna menyelesaikan kewajiban lama, termasuk utang bahan bakar kepada PT Pertamina (Persero). Sementara itu, alokasi untuk Garuda Indonesia dinilai belum cukup untuk mengaktifkan kembali puluhan pesawat yang masih tidak beroperasi.
Hingga akhir 2025, sekitar 40 persen armada Garuda Group berada dalam kondisi tidak laik operasi. Dampaknya, pangsa pasar perusahaan tergerus dan sebagian rute domestik didominasi oleh kompetitor. Penurunan jumlah penumpang hingga 10,5 persen menjadi 21,2 juta orang turut memperkuat indikasi melemahnya kepercayaan publik.
Di sisi lain, biaya pemeliharaan meningkat lebih dari 23 persen akibat akumulasi kebutuhan perawatan yang tertunda. Hal ini menjadi beban tambahan yang semakin mempersempit ruang perbaikan kinerja keuangan perusahaan.
Manajemen Garuda Indonesia menilai kondisi ini tidak terlepas dari kompleksitas operasional dan tekanan eksternal, termasuk kenaikan biaya suku cadang serta keterbatasan fleksibilitas tarif akibat kebijakan pemerintah. Tarif Batas Atas (TBA) yang belum disesuaikan dengan kondisi biaya terkini dinilai menjadi salah satu faktor yang membatasi margin keuntungan maskapai.
Meski menghadapi tekanan berat, manajemen tetap melanjutkan langkah transformasi melalui berbagai inisiatif strategis, termasuk optimalisasi rute, digitalisasi operasional, serta peningkatan manajemen pendapatan.
“Dengan berbagai langkah transformasi yang terus dijalankan secara disiplin dan terukur, Garuda Indonesia menempatkan tahun 2026 sebagai titik akselerasi pemulihan kinerja perusahaan,” ujar manajemen Garuda Indonesia sebagaimana dilansir Kompas, Selasa, (24/03/2026).
Ke depan, efektivitas implementasi strategi tersebut akan menjadi penentu arah keberlanjutan bisnis Garuda Indonesia, di tengah tuntutan untuk segera keluar dari tekanan finansial dan mengembalikan kepercayaan pasar. []
Penulis: Ronny P Sasmita | Penyunting: Redaksi01
