Pasokan Tersendat, Harga Bawang Merah Melonjak

JAKARTA – Lonjakan harga bawang merah menjelang libur Lebaran 2026 dipicu terganggunya produksi di sejumlah daerah sentra, yang menyebabkan pasokan tidak mampu mengimbangi peningkatan permintaan musiman di pasar domestik.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Ikhwan Arif mengungkapkan, gangguan produksi terjadi di wilayah Solok, Sumatra Barat, dan Enrekang, Sulawesi Selatan, akibat faktor cuaca dan serangan hama.

Menurut Ikhwan, kondisi tersebut berdampak langsung pada distribusi pasokan bawang yang menjadi terbatas di tengah lonjakan konsumsi masyarakat menjelang hari besar keagamaan.

“Untuk bawang ada, tapi tidak over. Lonjakan harga masih wajar,” kata Ikhwan, sebagaimana dilansir Bloombergtechnoz, Selasa (24/03/2026).

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional Bank Indonesia (BI) per 23 Maret 2026 mencatat harga bawang merah ukuran sedang naik 6,89 persen atau Rp3.050 menjadi Rp47.300 per kilogram. Sementara itu, bawang putih ukuran sedang turut meningkat 1,99 persen atau Rp800 menjadi Rp40.950 per kilogram.

Tidak hanya bawang, tekanan harga juga terjadi pada komoditas cabai. Cabai rawit merah mencatat kenaikan tertinggi sebesar 23,54 persen atau Rp21.100 menjadi Rp110.750 per kilogram. Cabai merah keriting naik 17,7 persen menjadi Rp61.850 per kilogram, sedangkan cabai merah besar meningkat 10,63 persen menjadi Rp58.300 per kilogram.

Ikhwan menjelaskan, fluktuasi harga pangan diperkirakan masih berlangsung dalam jangka pendek karena pasokan belum sepenuhnya pulih. Namun, kondisi ini diyakini akan mereda seiring datangnya masa panen.

“Awal April 2026 masuk panen raya,” kata Ikhwan.

Dalam mekanisme distribusi di pasar tradisional, hasil panen bawang umumnya langsung disalurkan ke pasar. Dengan demikian, peningkatan produksi saat panen raya berpotensi cepat menambah pasokan dan menekan harga di tingkat konsumen.

Situasi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga pangan menjelang Lebaran lebih disebabkan oleh gangguan produksi sementara, bukan kelangkaan total. Ke depan, stabilisasi harga sangat bergantung pada kelancaran panen dan distribusi komoditas dari daerah sentra ke pasar konsumsi. []

Penulis: Arya Pratama | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *