Geopolitik Memanas, Harga Perak Global dan Domestik Rontok

JAKARTA – Tekanan global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu penurunan tajam harga perak, baik di pasar internasional maupun domestik, dengan harga logam mulia tersebut di Vietnam merosot hingga mendekati 70 juta VND per kilogram pada penutupan perdagangan 26 Maret 2026.

Penurunan ini tercermin pada sejumlah pelaku pasar. Di Phu Quy Gold, Silver and Gemstone Group, harga batangan perak sterling 999 (1 tael) ditutup pada kisaran 2,566–2,645 juta VND/tael, sementara perak batangan 1 kilogram berada di level 68,43–70,53 juta VND/kg. Dibandingkan pembukaan perdagangan, harga mengalami koreksi signifikan hingga ratusan ribu VND per ounce untuk batangan, serta lebih dari 3 juta VND/kg untuk perak batangan.

Kondisi serupa terjadi di Ancarat Precious Metals Joint Stock Company, di mana harga perak 999 (1 tael) turun menjadi 2,528–2,606 juta VND/tael. Penurunan bahkan lebih dalam terjadi pada produk 1 kilogram yang anjlok hingga lebih dari 4 juta VND/kg dibandingkan harga awal hari.

Sementara itu, Saigon Thuong Tin Bank (Sacombank – SBJ) mencatat harga batangan perak 999 (1 tael) pada kisaran 2,676–2,772 juta VND/tael dan perak batangan 1 kilogram di 71,36–73,92 juta VND/kg. Meski relatif lebih tinggi, harga di SBJ tetap mengalami koreksi, dengan penurunan hingga 1,68 juta VND/kg untuk produk batangan.

Di pasar global, harga perak spot pada 26 Maret pukul 20.00 waktu Vietnam tercatat sebesar 67,84 dolar AS per ons, turun 4,79 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Kontrak berjangka pengiriman Mei juga melemah tajam ke level 67,89 dolar AS per ons, turun 6,54 persen.

Pelemahan ini dipicu ketidakpastian geopolitik menyusul pernyataan yang saling bertentangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait prospek perundingan damai. Washington menyatakan negosiasi masih berlangsung dan telah mengajukan proposal kepada Teheran, sementara Iran menolak gagasan tersebut dan mengajukan syarat tersendiri, termasuk terkait kendali atas Selat Hormuz.

Situasi semakin memanas dengan pengerahan ribuan pasukan Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik yang lebih luas. Dampaknya, harga energi melonjak dan memicu tekanan inflasi global, sehingga mendorong bank sentral untuk memperketat kebijakan moneter.

Dalam konteks investasi, UBS Bank tetap mempertahankan pandangan positif terhadap perak. Para analis menilai bahwa volatilitas jangka pendek tidak mencerminkan prospek jangka panjang logam tersebut. “Meskipun menekankan bahwa perak bukanlah lindung nilai yang efektif terhadap guncangan ketidakstabilan atau lonjakan permintaan uang tunai, UBS tetap menyarankan investor untuk tidak menarik kesimpulan jangka panjang dari penurunan harga jangka pendek baru-baru ini,” sebagaimana dilansir Bloomberg, Kamis (27/03/2026).

UBS juga mencatat adanya arus keluar dana dari exchange traded fund (ETF) perak sebesar 64 juta ons atau sekitar 7,5 persen dari posisi puncak. Di sisi lain, permintaan industri yang menyumbang lebih dari setengah konsumsi perak global diperkirakan menghadapi tekanan akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Namun, dalam jangka panjang, prospek perak dinilai tetap positif. Kenaikan harga energi dan kebutuhan investasi pada energi terbarukan seperti tenaga surya berpotensi meningkatkan permintaan perak, khususnya dalam aplikasi fotovoltaik. Selain itu, faktor makroekonomi seperti suku bunga riil rendah dan pelemahan dolar AS turut menjadi penopang harga ke depan.

Secara keseluruhan, meskipun harga perak saat ini mengalami koreksi tajam dan fluktuasi tinggi, pelaku pasar masih melihat adanya peluang pemulihan dalam jangka panjang seiring stabilisasi kondisi global. []

Penulis: … | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *