Rupiah Tertekan, Dekati Rp17.000 per Dolar AS di Awal Pekan
JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada awal pekan, Senin (30/03/2026), setelah ditutup melemah mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sebelumnya. Tekanan tersebut dipicu kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari lonjakan harga minyak hingga arus keluar modal asing.
Pada penutupan Jumat (27/03/2026), kurs rupiah melemah 0,36 persen ke level Rp16.965 per dolar AS. Posisi ini menjadi salah satu yang terlemah dalam beberapa pekan terakhir dan mempersempit jarak menuju batas psikologis penting di level Rp17.000.
Di saat yang sama, indeks dolar AS atau Dollar Index (DXY) menguat tipis 0,1 persen ke posisi 100. Penguatan dolar turut menekan mayoritas mata uang Asia, termasuk rupee India yang melemah 0,8 persen, peso Filipina 0,48 persen, ringgit Malaysia 0,4 persen, dan baht Thailand 0,3 persen.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova dan pengamat Ibrahim Assuaibi mengungkapkan terdapat tiga faktor utama yang membebani rupiah. Pertama, lonjakan harga minyak dunia yang meningkatkan beban impor energi Indonesia sebagai negara net importer. Harga minyak Brent yang berada di kisaran 106–112 dolar AS per barel dalam sebulan terakhir memperlebar defisit neraca berjalan dan menekan cadangan devisa.
Kedua, derasnya arus keluar dana asing dari pasar domestik. Investor asing tercatat melepas saham senilai Rp22,37 triliun dalam sepekan pasca-Lebaran. Sementara itu, di pasar obligasi, arus keluar mencapai 1,22 miliar dolar AS secara month-to-date hingga 16 Maret 2026. Kondisi ini meningkatkan tekanan jual terhadap rupiah.
Ketiga, ekspektasi suku bunga tinggi di AS. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan tidak ada peluang pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve sepanjang 2026. Suku bunga tinggi membuat aset berbasis dolar lebih menarik dibandingkan instrumen di negara berkembang, sehingga memicu perpindahan modal keluar.
Meski demikian, level Rp17.000 dinilai sebagai batas psikologis krusial yang belum tentu mudah ditembus. Pengalaman sebelumnya menunjukkan level tersebut hanya tercapai dalam kondisi tekanan ekstrem, seperti saat pandemi Covid-19.
Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi pasar menggunakan cadangan devisa dan instrumen operasi moneter. Cadangan devisa Indonesia per akhir Februari 2026 dinilai masih cukup untuk menjaga stabilitas jangka pendek.
Untuk perdagangan hari ini dan sepanjang pekan, rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.900–Rp17.000 per dolar AS. Arah pergerakan akan sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik, khususnya negosiasi AS-Iran menjelang tenggat 6 April 2026, serta rilis data ekonomi domestik seperti Purchasing Managers’ Index (PMI), neraca perdagangan, dan inflasi.
Tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat apabila harga minyak kembali naik akibat konflik global. Namun, pemerintah menyatakan belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, yang diharapkan dapat meredam tekanan inflasi domestik, sebagaimana dilansir Seruji, Senin (30/03/2026). []
Penulis: Iwan S | Penyunting: Redaksi01
