Rupiah Tertahan di Level Rp16.900, Pasar Masih Dibayangi Ketidakpastian Global
JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan, Senin (30/03/2026), menunjukkan stabilitas terbatas di tengah tekanan global, dengan kurs perbankan berada di kisaran Rp16.900 per dolar AS, meski bayang-bayang pelemahan masih belum sepenuhnya hilang.
Data dari sejumlah bank besar memperlihatkan variasi tipis nilai tukar. Bank Central Asia (BCA) mencatat kurs beli Rp16.935 dan kurs jual Rp17.025 per dolar AS. Sementara Bank Rakyat Indonesia (BRI) berada di level Rp16.959 untuk beli dan Rp16.973 untuk jual. Bank Mandiri mencatat Rp16.915 (beli) dan Rp16.945 (jual), sedangkan Bank Negara Indonesia (BNI) menetapkan Rp16.950 (beli) dan Rp17.030 (jual). Rentang sempit ini mencerminkan kondisi pasar yang cenderung wait and see di tengah ketidakpastian global.
Di pasar spot, rupiah sempat menguat tipis 0,04 persen atau sekitar 7 poin ke level Rp16.904 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp16.911. Penguatan terbatas ini dipengaruhi meredanya sebagian sentimen eksternal, terutama sinyal diplomasi dari Iran terkait proposal perdamaian yang didukung AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai, perkembangan geopolitik menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Ia menyebut adanya harapan awal dari pasar setelah Iran dikabarkan meninjau opsi perdamaian, meskipun belum ada keputusan final dari Teheran. Informasi tersebut sebagaimana dilansir Liputan6, Senin, (30/03/2026).
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 75 poin sebelumnya sempat melemah 80 poin di level Rp 16.979 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.904,” kata Ibrahim Assuaibi.
Namun demikian, ketidakpastian tetap membayangi pasar. Iran belum menunjukkan komitmen untuk negosiasi langsung, sementara perbedaan kepentingan dengan AS masih cukup besar. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi.
Selain faktor geopolitik, fluktuasi harga minyak dunia juga menjadi perhatian utama. Gangguan pasokan dari kawasan Teluk mendorong harga minyak mentah, termasuk Brent, sempat menembus di atas 119 dolar AS per barel. Kenaikan ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan turut membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Tekanan tambahan juga datang dari kebijakan moneter global. Pasar mulai mengurangi ekspektasi pelonggaran suku bunga oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve/Fed), bahkan beralih pada kemungkinan pengetatan. Suku bunga tinggi di AS meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar, sehingga mendorong arus modal keluar dari negara berkembang.
Di sisi lain, faktor domestik turut memengaruhi pergerakan rupiah. Momentum Hari Raya Idulfitri 2026 dinilai mendorong konsumsi masyarakat, meskipun dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi tidak sebesar tahun sebelumnya. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 berada di kisaran 5,4 persen, sedikit di bawah target awal.
Ibrahim menambahkan bahwa inflasi yang meningkat selama Ramadan dan Lebaran juga menahan daya beli masyarakat. “Kemudian, inflasi yang cukup tinggi ikut membuat konsumsi masyarakat sedikit tertahan selama puasa dan hari raya Lebaran berlangsung. Membuat dorongan ekonomi dari peristiwa ini tak maksimal seperti tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya.
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan bergerak terbatas di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.000 per dolar AS dalam waktu dekat, seiring sikap hati-hati pelaku pasar menanti perkembangan lanjutan. []
Penulis: Gagas Yoga Pratomo | Penyunting: Redaksi01
