CPI Tokyo Naik 1,7 Persen, Masih di Bawah Target Bank Sentral
TOKYO – Inflasi inti di Tokyo kembali berada di bawah target Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) pada Maret 2026, menandakan tekanan harga belum sepenuhnya stabil meski kebijakan pengetatan moneter telah ditempuh. Data terbaru menunjukkan, kenaikan harga masih tertahan oleh subsidi energi di tengah pelemahan yen dan dinamika global.[]
Berdasarkan data yang dirilis Selasa (31/03/2026), indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) inti Tokyo—yang tidak memasukkan harga pangan segar—naik 1,7 persen secara tahunan. Angka ini lebih rendah dibandingkan Februari sebesar 1,8 persen, sekaligus berada di bawah target inflasi 2 persen yang ditetapkan BOJ, sebagaimana dilansir Kontan, Selasa, (31/03/2026).[]
Kondisi ini dipengaruhi oleh kebijakan subsidi bahan bakar yang menahan laju kenaikan harga, meskipun tekanan inflasi tetap muncul akibat pelemahan nilai tukar yen dan meningkatnya biaya impor. Para analis menilai perlambatan tersebut bersifat sementara, seiring potensi kenaikan harga energi global yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah.[]
Sementara itu, indikator inflasi yang lebih luas—yang tidak mencakup harga pangan segar dan bahan bakar—tercatat naik 2,3 persen pada Maret, turun dari 2,5 persen pada Februari. Indikator ini menjadi perhatian utama BOJ dalam menilai tren inflasi jangka menengah.[]
Dalam upaya menjaga stabilitas harga, BOJ sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 0,75 persen pada Desember 2025, level tertinggi dalam tiga dekade. Kebijakan ini merupakan bagian dari langkah bertahap untuk mengakhiri stimulus moneter besar-besaran yang telah berlangsung lama, sekaligus mencerminkan keyakinan bahwa Jepang menuju target inflasi 2 persen secara berkelanjutan.[]
Ke depan, arah inflasi Jepang diperkirakan sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga energi global dan pergerakan nilai tukar yen, yang akan menentukan efektivitas kebijakan moneter BOJ dalam menjaga stabilitas ekonomi.[]
Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01
