Lonjakan Harga Perak Buka Peluang Baru di Pasar Logam Mulia
Silver bars or ingots background. Precious metal. 3d illustration
JAKARTA – Kenaikan harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada awal April 2026 memicu perhatian pelaku pasar, menyusul lonjakan signifikan yang mempertegas tingginya volatilitas sekaligus peluang pada instrumen logam mulia non-emas tersebut.
Pada Kamis, 2 April 2026, harga perak Antam tercatat naik Rp3.000 menjadi Rp47.550 per gram. Kenaikan ini melanjutkan tren positif dalam beberapa hari terakhir setelah sebelumnya harga berada di level Rp45.100 per gram pada 31 Maret 2026.
Pergerakan tersebut terjadi di tengah dinamika pasar komoditas yang fluktuatif, di mana pada 30 Maret 2026 harga perak sempat terkoreksi tajam sebesar Rp1.450 sebelum kembali menguat secara bertahap. Pola ini menunjukkan adanya tekanan sekaligus peluang bagi investor dalam memanfaatkan momentum harga.
Selain harga satuan, nilai transaksi untuk pembelian dalam jumlah besar juga mengalami peningkatan. Untuk perak murni 250 gram, harga dasar tercatat Rp12.287.500 atau menjadi Rp13.639.125 setelah Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Sementara itu, ukuran 500 gram dibanderol Rp23.775.000 atau Rp26.390.250 setelah PPN.
Jika dibandingkan dengan perak umum nonmerek, harga perak Antam masih berada di atas pasar. Estimasi harga per gram mencapai Rp49.150, sedangkan perak umum berada di kisaran Rp40.676 per gram. Selisih ini mencerminkan adanya nilai tambah dari sisi kualitas, sertifikasi, dan reputasi produk.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perak tidak hanya dipandang sebagai komoditas industri, tetapi juga sebagai aset lindung nilai atau safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global. Permintaan dari sektor industri seperti elektronik dan energi terbarukan turut menopang prospek jangka panjang logam ini.
Selain itu, Antam juga menawarkan produk varian khusus seperti perak Heritage yang menyasar segmen kolektor. Pada 1 April 2026, harga perak Heritage ukuran 31,1 gram tercatat Rp2.026.605 atau Rp2.249.532 setelah PPN. Untuk ukuran 186,6 gram, harga mencapai Rp11.038.126 atau Rp12.252.320 setelah PPN.
Kenaikan harga perak ini tidak terlepas dari berbagai faktor eksternal, seperti pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD), kebijakan suku bunga global, serta permintaan industri. Di sisi lain, karakter perak yang lebih volatil dibandingkan emas membuatnya berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi, namun dengan risiko yang juga lebih besar.
Informasi ini sebagaimana dilansir Bloomberg Technoz, Kamis, (02/04/2026).
Ke depan, pergerakan harga perak diperkirakan masih akan dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Investor disarankan mencermati tren pasar serta menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko masing-masing di tengah fluktuasi yang masih tinggi. []
Penulis: Dimas Nugroho | Penyunting: Redaksi01
