Penumpang Stasiun Rogojampi Melonjak, Ekonomi Banyuwangi Ikut Terdongkrak

BANYUWANGI – Peningkatan jumlah penumpang di Stasiun Rogojampi pada triwulan I 2026 menjadi indikator menguatnya mobilitas masyarakat sekaligus pendorong aktivitas ekonomi lokal di Kabupaten Banyuwangi. Data PT Kereta Api Indonesia (Persero) menunjukkan, volume penumpang naik mencapai 67.212 orang atau tumbuh 19,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain keberangkatan, arus kedatangan penumpang juga tercatat tinggi dengan total 67.109 orang. Lonjakan ini dinilai berkontribusi terhadap peningkatan pergerakan ekonomi masyarakat, terutama karena kemudahan akses transportasi yang terintegrasi dengan kawasan strategis.

Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia (Persero) Anne Purba menilai konektivitas yang semakin baik memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi dan pariwisata daerah. “Perjalanan yang semakin mudah membantu masyarakat menjalankan aktivitas dengan lebih efisien. Akses yang dekat antara stasiun dan bandara membuka peluang usaha, memperkuat pergerakan ekonomi, serta mendukung pengembangan pariwisata dan budaya daerah,” ujarnya, sebagaimana dilansir Rri, Minggu, (26/04/2026).

Secara geografis, Stasiun Rogojampi memiliki posisi strategis karena berjarak sekitar delapan kilometer dari Bandara Internasional Banyuwangi. Kedekatan ini mempermudah wisatawan menjangkau berbagai destinasi unggulan di Banyuwangi, sekaligus mempercepat arus distribusi penumpang dari dan menuju wilayah tersebut.

Untuk mendukung kebutuhan mobilitas, PT KAI juga menambah layanan kereta api, termasuk KA Sangkuriang dengan relasi baru Bandung–Banyuwangi pulang pergi setiap hari. Selain itu, tersedia pilihan kereta lokal seperti KA Probowangi hingga kereta jarak jauh guna mengakomodasi perjalanan antarkota.

Executive Vice President Corporate Secretary PT Kereta Api Indonesia (Persero) Wisnu Pramudya menegaskan peningkatan jumlah penumpang menjadi dorongan bagi perusahaan untuk terus menjaga kualitas layanan. “Kepercayaan masyarakat menjadi dorongan bagi KAI untuk terus menjaga kualitas layanan. Setiap perjalanan diharapkan memberi kemudahan, rasa aman, serta manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.

Secara historis, stasiun ini telah beroperasi sejak era kolonial Belanda, ketika perusahaan Staatsspoorwegen meresmikan jalur sepanjang 58 kilometer pada 1903. Kini, keberadaan stasiun tersebut tidak hanya menjadi simpul transportasi, tetapi juga membuka akses ke berbagai destinasi wisata seperti kawasan Alas Purwo dan hutan trembesi De Djawatan.

Aktivitas di Stasiun Rogojampi turut mendorong pertumbuhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar kawasan. Beragam kuliner khas seperti sego cawuk dan rujak soto menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang datang, sehingga memperkuat ekosistem ekonomi lokal berbasis transportasi. []

Penulis: Danang Sundoro | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *