Cabai Rawit Tembus Rp165 Ribu, Harga Pangan Nasional Tertekan
JAKARTA – Lonjakan harga komoditas hortikultura memicu tekanan baru pada pasar pangan nasional, dengan cabai rawit merah tercatat menembus Rp165.000 per kilogram pada Selasa (28/04/2026), menjadi pemicu utama kenaikan harga di pasar tradisional.
Kenaikan tajam ini terjadi di tengah fluktuasi pasokan dan distribusi komoditas segar, yang membuat harga sejumlah bahan pangan mengalami peningkatan signifikan dalam waktu singkat.
Berdasarkan pantauan harga harian, komoditas hortikultura menjadi penyumbang terbesar gejolak harga, terutama cabai rawit merah yang mengalami lonjakan drastis dibandingkan pekan sebelumnya. Kondisi ini memperlihatkan rentannya harga pangan segar terhadap gangguan pasokan, cuaca, serta distribusi antarwilayah.
Meski demikian, komoditas pangan lainnya relatif menunjukkan pergerakan yang lebih stabil, sehingga tekanan inflasi secara umum masih dapat dikendalikan oleh pemerintah melalui berbagai instrumen pengendalian harga.
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah (pemda) terus melakukan langkah antisipatif guna menekan lonjakan harga, di antaranya melalui operasi pasar, penguatan distribusi, serta pemantauan harga secara berkala di tingkat daerah.
Selain itu, pengawasan terhadap rantai pasok juga diperketat untuk mencegah praktik penimbunan maupun spekulasi harga yang dapat memperburuk kondisi pasar.
Lonjakan harga cabai rawit merah ini menjadi perhatian karena komoditas tersebut merupakan salah satu bahan pokok yang sensitif terhadap perubahan harga dan memiliki kontribusi besar terhadap inflasi pangan.
Sebagaimana diberitakan Suara, Selasa, (28/04/2026), kenaikan harga ini terjadi secara luas di sejumlah pasar tradisional dan menjadi indikator adanya tekanan pada sektor hortikultura nasional.
Ke depan, stabilisasi harga komoditas hortikultura akan sangat bergantung pada kelancaran distribusi, kondisi cuaca, serta efektivitas intervensi pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar. []
Penulis: Dythia Novianty | Penyunting: Redaksi01
