Stok Melimpah, Harga Beras Nasional Tetap Stabil Meski Distribusi Tersendat

JAKARTA – Stabilitas harga beras nasional pada Selasa (28/04/2026) dinilai mencerminkan kuatnya cadangan pangan pemerintah, meskipun sejumlah daerah masih menghadapi tantangan distribusi yang berdampak pada variasi harga di tingkat konsumen.

Kondisi tersebut terjadi di tengah ketersediaan stok beras yang relatif aman untuk beberapa bulan ke depan, didukung peningkatan produksi padi sepanjang 2025 yang menjadi penopang utama kestabilan harga di pasar tradisional maupun ritel modern.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat produksi beras nasional pada periode Januari hingga November 2025 mencapai 33,19 juta ton, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 29,47 juta ton. Kenaikan ini berkontribusi langsung dalam menekan potensi lonjakan harga, terutama pada kuartal kedua yang biasanya rentan terhadap gangguan cuaca dan distribusi.

Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) melaporkan stok beras pemerintah berada di kisaran 3,8 juta ton hingga akhir Oktober 2025. Dengan proyeksi produksi tahunan yang menembus lebih dari 34 juta ton, pemerintah optimistis inflasi pangan, khususnya beras, tetap terkendali.

Meski demikian, dinamika di lapangan menunjukkan masih adanya perbedaan harga di beberapa wilayah. Hal ini dipengaruhi oleh rantai distribusi yang panjang serta biaya logistik antar daerah yang tidak merata.

“Stok beras kita melimpah, sehingga harga di pasar seharusnya bisa turun atau setidaknya stabil sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berlaku,” demikian pernyataan resmi Badan Pangan Nasional, sebagaimana dilansir Metro Tv, Selasa, (28/04/2026).

Sebagai respons atas kondisi tersebut, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah (pemda) memperkuat pengawasan terhadap harga eceran tertinggi serta menggencarkan operasi pasar untuk menjaga keterjangkauan bagi masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.

Sejumlah langkah strategis juga diterapkan, antara lain percepatan penyaluran bantuan pangan, inspeksi mendadak ke gudang distributor guna mencegah penimbunan, serta pemantauan harga berbasis digital melalui dashboard pangan di beberapa daerah.

Berdasarkan pantauan di pasar induk, harga beras per kilogram masih berada dalam kisaran terkendali, antara lain beras medium sekitar Rp12.500, beras premium Rp14.900, beras pandan wangi Rp17.500, dan beras merah Rp19.000, dengan ketersediaan stok yang umumnya aman.

Di sisi lain, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying, mengingat pasokan beras nasional dipastikan mencukupi.

Hingga kini, aktivitas distribusi di sentra perdagangan seperti Pasar Induk Cipinang tetap berjalan normal, ditandai dengan stabilnya volume pasokan dari daerah produsen. Penyerapan gabah petani oleh Bulog juga terus dilakukan guna memperkuat cadangan pangan nasional menjelang semester kedua 2026. []

Penulis: Dimas Nugroho | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *