Fitch Rating dan Geopolitik Tekan Rupiah ke Level Rp17.353

JAKARTA – Tekanan eksternal dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tata kelola lembaga investasi negara mendorong nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir April 2026.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia (Jisdor BI), kurs rupiah pada Rabu (29/04/2026) ditutup di level Rp 17.324 per dolar AS, melemah 79 poin dibandingkan posisi sebelumnya Rp 17.245. Sementara itu, pada perdagangan pasar spot Kamis (30/04/2026) hingga pukul 09.00 WIB, rupiah kembali tertekan ke level Rp 17.353 per dolar AS atau melemah 27 poin dari posisi sebelumnya.

Pelemahan ini dipengaruhi sejumlah sentimen global dan domestik, termasuk laporan lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang menyoroti risiko tata kelola pada lembaga investasi Danantara. Lembaga tersebut sebelumnya menurunkan prospek utang Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Maret 2026.

Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kekhawatiran investor berkaitan dengan struktur pelaporan Danantara yang dinilai terpusat serta potensi penggunaan dana untuk kepentingan pembiayaan program pemerintah.

“Jika sebuah entitas mengklaim sepenuhnya komersial tetapi kenyataannya tidak, maka ekspektasi bisa meleset. Hal ini bisa menimbulkan kejutan, karena keputusan investasi bisa dipengaruhi aspek politik, bukan semata-mata imbal hasil.”

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah cenderung tidak stabil dalam jangka pendek.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.320-Rp 17.380,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Tvonenews, Kamis (30/04/2026).

Selain faktor domestik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dinamika global. Pasar keuangan mencermati keputusan Uni Emirat Arab (UEA) yang keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC), yang berpotensi memengaruhi stabilitas harga minyak dunia.

Di saat yang sama, ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat setelah pemerintah AS berencana memperpanjang blokade terhadap Iran. Kebijakan tersebut dinilai dapat memperpanjang gangguan pasokan energi global dan memicu volatilitas pasar.

Kombinasi faktor tersebut membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati, sekaligus menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Stabilitas nilai tukar ke depan diperkirakan masih sangat bergantung pada kejelasan kebijakan global serta kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi domestik. []

Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *