Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.395 per Dolar AS
JAKARTA – Tekanan geopolitik global dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal nasional mendorong nilai tukar rupiah kembali melemah pada awal perdagangan, Senin (11/05/2026). Rupiah dibuka turun 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.395 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring penguatan indeks dolar AS ke posisi 98,06.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan pelemahan rupiah masih akan berlanjut hingga penutupan perdagangan. Ia memprediksi mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran yang kembali mengguncang pasar keuangan global. Konflik kedua negara dinilai meningkatkan risiko penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia.
“Nampaknya, upaya damai antar kedua pihak terancam gagal dan membuat Selat Hormuz berisiko ditutup kembali. Eskalasi perang yang meningkat sebelumnya membuat harga minyak dunia melambung bersamaan dengan dolar AS. Kondisi tersebut menekan rupiah secara signifikan,” ujarnya sebagaimana dilansir Bisnis, Senin (11/05/2026).
“Tuduhan Iran bahwa AS melanggar gencatan senjata selama sebulan di antara mereka, sementara AS mengatakan serangannya adalah balasan setelah tembakan Iran pada hari Kamis terhadap kapal angkatan lautnya yang melintas melalui selat tersebut,” kata Ibrahim.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Ibrahim menyebut para gubernur The Fed masih memiliki pandangan berbeda terkait kebijakan suku bunga sehingga menambah ketidakpastian pasar global.
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada kondisi fiskal pemerintah. Hingga 31 Maret 2026, utang pemerintah tercatat mencapai Rp9.920,42 triliun atau naik hampir tiga persen dibandingkan posisi Desember 2025 sebesar Rp9.637,9 triliun.
Sementara itu, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada kuartal I 2026 telah mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Realisasi pembiayaan utang juga tercatat sebesar Rp258,7 triliun.
“Kendati rasio utang relatif masih di bawah standar internasional yakni 60% terhadap PDB, berbagai lembaga internasional turut memerhatikan rasio utang maupun bunganya terhadap penerimaan,” ucapnya. []
Penulis: Akbar Maulana al Ishaqi | Penyunting: Redaksi01
