GTWCA Mandalika Dongkrak Pariwisata, Hotel Penuh 100 Persen
LOMBOK TENGAH – Kesuksesan penyelenggaraan GT World Challenge Asia 2026 (GTWCA) di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika mendorong pelaku pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) berharap lebih banyak ajang balap internasional digelar di kawasan tersebut. Tingginya okupansi hotel hingga meningkatnya aktivitas ekonomi dinilai menjadi bukti kuat dampak positif sport tourism terhadap sektor wisata dan usaha lokal.
Ketua Mandalika Hotel Association (MHA) Syamsul Bahri mengatakan penyelenggaraan GTWCA memberikan efek signifikan terhadap tingkat kunjungan wisatawan di kawasan Kuta Mandalika. Selama ajang berlangsung, hampir seluruh hotel di kawasan itu mencatat tingkat hunian penuh atau mencapai 100 persen.
“Bahkan ada tamu yang melakukan long stay hingga lima hari. Ini membuktikan betapa besarnya dampak event balap terhadap sektor pariwisata kita,” ujar Syamsul, sebagaimana dilansir Lombokpost, Senin (11/05/2026).
Menurutnya, tingginya okupansi hotel menjadi sinyal positif bahwa event otomotif internasional mampu memperpanjang masa tinggal wisatawan sekaligus meningkatkan belanja sektor jasa. MHA pun berharap pemerintah dan pengelola sirkuit menghadirkan ajang dengan skala yang lebih besar di Mandalika.
Meski demikian, MHA memberikan catatan terkait strategi promosi penyelenggaraan event. Syamsul menilai promosi perlu dilakukan lebih awal agar mampu menjangkau lebih banyak wisatawan mancanegara maupun domestik.
MHA juga menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan Mandalika Grand Prix Association (MGPA) sebagai pengelola sirkuit untuk memperluas promosi melalui jaringan hotel yang dimiliki pelaku usaha pariwisata di kawasan Mandalika.
“Kita ingin event dengan skala yang lebih besar lagi hadir di Mandalika,” tegas General Manager (GM) JM Hotel itu.
Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) MGPA Priandhi Satria mengungkapkan pihaknya tengah membidik sejumlah ajang balap mobil internasional agar dapat digelar di Sirkuit Mandalika. Salah satu event yang sedang dijajaki ialah Asian Le Mans Series.
Priandhi menjelaskan proses komunikasi dengan penyelenggara balap internasional terus dilakukan, terutama terkait persyaratan homologasi lintasan yang berbeda dengan GTWCA maupun MotoGP.
“Untuk GT World Challenge Asia ini kan homologasi FIA grade 3 sedangkan Asian Le Mans Series homologasi FIA grade 2,” jelasnya.
Ia menambahkan keberhasilan GTWCA tidak lepas dari dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga pelaku usaha pariwisata. Dengan fasilitas yang terus berkembang, Sirkuit Mandalika dinilai semakin berpotensi menjadi pusat sport tourism di Asia Tenggara.
“Kesuksesan ini adalah hasil kerja keras kolektif. Kehadiran ribuan pengunjung ini terbukti mampu menggerakkan ekonomi pelaku UMKM dan sektor jasa lainnya di NTB,” pungkasnya. []
Penulis: | Penyunting: Redaksi01
