Tekanan Rupiah Berlanjut, UMKM Bisa Terdampak dari Biaya Produksi
JAKARTA – Tekanan terhadap rupiah masih berlanjut seiring kombinasi sentimen domestik dan global yang mendorong pelaku pasar memburu aset aman, membuat mata uang Garuda diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin.
Fokus pasar kini tertuju pada ketahanan eksternal Indonesia setelah defisit neraca transaksi berjalan dinilai lebih besar dari ekspektasi pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi domestik dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip data RTI Infokom, rupiah ditutup melemah 0,18 persen ke level Rp17.700 per dolar AS pada Jumat (22/05/2026). Pergerakan ini sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia, termasuk yen Jepang, dolar Singapura, won Korea, dolar Hong Kong, ringgit Malaysia, peso Filipina, dan baht Thailand.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru mencatat penguatan terhadap dolar AS, seperti yuan China, dolar Taiwan, dan rupee India. Pergerakan campuran ini menunjukkan tekanan pasar regional masih berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari data domestik, tetapi juga dipicu sentimen risk off yang masih membayangi pasar keuangan. Pelemahan pasar ekuitas dalam beberapa hari terakhir turut memperbesar kekhawatiran investor terhadap ketahanan eksternal Indonesia.
Selain faktor domestik, pasar juga menyoroti perkembangan geopolitik di Timur Tengah, terutama respons Iran terhadap proposal dari AS. Ketegangan kawasan dinilai dapat memperkuat dolar AS dan menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
“Untuk perdagangan Senin [25/05/2026], rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS,” kata Lukman akhir pekan lalu.
Prospek pergerakan rupiah pada awal pekan dinilai masih sangat bergantung pada respons pasar terhadap sentimen global dan arah kebijakan ekonomi, sebagaimana dilansir Bisnis, Senin, (25/05/2026). []
Penulis: Anitana Widya Puspa | Penyunting: Redaksi01
