BI Dorong Ekonomi Syariah Modern Lewat FESyar Sumatera 2026
PALEMBANG – Bank Indonesia (BI) menargetkan penguatan literasi, transaksi digital, dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis syariah melalui Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Sumatera 2026 yang akan digelar di Palembang pada 5–7 Juni 2026. Festival ini disiapkan sebagai ruang edukasi sekaligus penguatan ekosistem ekonomi syariah regional yang lebih inklusif dan modern.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Adhie Wicaksono mengatakan Palembang dan Sumsel dipilih sebagai tuan rumah karena dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah regional. Kegiatan itu mengusung penguatan sinergi dan transformasi digital untuk memperluas daya saing sektor halal di berbagai bidang.
Menurut Adhie, ekonomi syariah tidak hanya berkaitan dengan makanan halal, tetapi juga mencakup sektor pariwisata ramah muslim, modest fashion, industri kreatif, hingga aktivitas ekonomi berkelanjutan.
“Kalau berbicara ekonomi syariah, bukan hanya soal makanan. Pariwisata, aktivitas usaha, hingga gaya hidup juga menjadi bagian dari ekonomi syariah,” ujarnya, sebagaimana diwartakan Sonora, Senin, (25/05/2026).
BI menilai pertumbuhan konsumen syariah global menjadi peluang besar bagi Indonesia. Selain itu, sistem ekonomi syariah juga didorong melalui konsep keberlanjutan serta digitalisasi transaksi agar mampu memberi dampak ekonomi jangka panjang.
“Kita ingin ekonomi syariah terus tumbuh melalui sinergi dan transformasi digital,” katanya.
Meski demikian, edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, masih menjadi tantangan utama. BI menilai pendekatan syariah perlu dikemas lebih kreatif agar lebih relevan dan mudah diterima kalangan muda.
“Tantangan terbesar memang edukasi yang harus terus menerus dilakukan. Apalagi untuk anak muda atau Gen Z, hal-hal yang berkaitan dengan syariah harus dikemas sedemikian rupa agar lebih menarik dan mudah diterima,” ungkapnya.
Melalui konsep festival yang lebih modern, BI menghadirkan berbagai agenda seperti pameran UMKM, edukasi syariah, kompetisi kreatif, business matching, business coaching, hiburan religi, hingga talk show nasional. Lebih dari 20 UMKM binaan BI Sumsel dipastikan terlibat untuk mempromosikan produk unggulan khas Sumatera.
Salah satu program yang disiapkan adalah integrasi wakaf dalam aktivitas belanja masyarakat. Pengunjung yang membeli kopi seharga Rp15 ribu di area festival akan sekaligus berkontribusi dalam program wakaf.
“Jadi sambil menikmati kopi khas Sumatera, masyarakat juga bisa ikut berwakaf,” katanya.
Selain itu, FESyar Sumatera 2026 juga menghadirkan Sharia Education, Halal Chef Competition, Olimpiade Ekonomi Syariah untuk pelajar, pelatihan content creator, Training of Trainer bagi da’i dan da’iyah, seminar ekonomi syariah, hingga forum penguatan ekosistem regional yang melibatkan akademisi, komunitas, pesantren, pelaku usaha, dan stakeholder terkait.
“Kami akan menghadirkan banyak pembahasan menarik terkait ekonomi syariah dengan narasumber nasional,” ujar Adhie.
Pada sisi hiburan, panitia menyiapkan tabligh akbar yang menghadirkan Habib Syech Abdul Qodir Assegaf pada Jumat malam, sementara penutupan festival akan diisi artis nasional yang masih dirahasiakan.
BI menegaskan festival ini terbuka untuk seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang agama. Harapannya, FESyar Sumatera 2026 dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi syariah yang inklusif, modern, dan memperkuat daya saing regional di era digital. []
Penulis: Achmad Aulia | Penyunting: Redaksi01
