Puluhan Ribu UMKM Jadi Tulang Punggung Rantai Pasok Program MBG

JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan melalui keterlibatan puluhan ribu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), koperasi, hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam rantai pasok pangan nasional. Skema ini dinilai tidak hanya menyasar pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memperluas aktivitas ekonomi lokal di berbagai wilayah.

Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN) per 21 Mei 2026, sebanyak 28.945 dapur MBG telah beroperasi di seluruh Indonesia. Operasional dapur tersebut melibatkan 59.921 UMKM, 13.306 koperasi, 1.410 BUMDes, 690 koperasi desa/kelurahan Merah Putih, serta 157 BUMDes bersama sebagai pemasok kebutuhan program.

Besarnya kebutuhan bahan pangan untuk dapur MBG turut memicu perputaran usaha di tingkat lokal. Komoditas yang terserap mencakup telur, minyak goreng, tepung, beras, daging ayam dan sapi, tempe, tahu, sayur, serta buah. Selain itu, kebutuhan operasional seperti sabun cuci, air bersih, dan gas elpiji juga ikut mendorong aktivitas perdagangan daerah.

Sudut pandang program ini menempatkan UMKM sebagai salah satu motor penggerak utama dalam distribusi pangan. Keterlibatan pelaku usaha lokal dinilai memperkuat ekosistem usaha kecil sekaligus membuka ruang pertumbuhan bisnis baru di sektor pangan dan logistik.

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menilai keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok MBG membawa dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Program ini dinilai mampu menciptakan multiplier effect melalui perputaran ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp300 triliun pada 2026, dengan setiap dapur MBG mengelola sekitar Rp1 miliar per bulan, sebagaimana diwartakan Ntvnews, Kamis, (22/05/2026).

Selain memperkuat usaha kecil, program MBG juga diperkirakan menyerap sekitar 1,3 juta tenaga kerja hingga triwulan pertama 2026. Kondisi tersebut membuka peluang lahirnya pelaku usaha baru yang terhubung dengan distribusi pangan, logistik, hingga layanan penunjang operasional dapur. Dengan skala keterlibatan yang terus meluas, MBG menjadi salah satu instrumen yang ikut menggerakkan ekonomi berbasis komunitas di Indonesia. []

Penulis: Winny | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *