Minyak Dunia Rebound ke US$90 per Barel Setelah Anjlok 5 Persen
JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis pagi setelah sempat tertekan tajam sehari sebelumnya. Kenaikan harga dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memanaskan situasi di kawasan Selat Hormuz.
Berdasarkan data Bloomberg per pukul 07.21 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juli 2026 di New York Mercantile Exchange tercatat berada di level US$90,31 per barel atau naik 1,84 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Penguatan tersebut terjadi setelah harga minyak sempat terkoreksi lebih dari 5 persen akibat ketidakpastian negosiasi antara AS dan Iran terkait pembukaan jalur pelayaran Selat Hormuz. Ketegangan meningkat menyusul laporan operasi militer baru di wilayah Iran.
Laporan Reuters menyebutkan pejabat AS mengonfirmasi adanya serangan terhadap lokasi yang dianggap mengancam pasukan Amerika Serikat dan lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Operasi itu menjadi bagian dari rangkaian tindakan militer yang dilakukan Washington sejak awal pekan.
Meski kembali menguat, pergerakan harga minyak dunia secara mingguan masih berada dalam tren pelemahan untuk pekan kedua berturut-turut. Pasar sebelumnya sempat memperoleh sentimen positif dari peluang tercapainya kesepakatan diplomatik antara AS dan Iran, walaupun negosiasi masih menghadapi sejumlah hambatan penting.
Salah satu isu utama yang menjadi ganjalan ialah persoalan program nuklir Teheran dan sikap Iran yang ingin tetap mempertahankan kendali penuh atas kawasan Selat Hormuz.
“Meski pasar memperhitungkan prospek kesepakatan dengan optimisme yang kuat, kemungkinan pihak-pihak yang bersengketa meninggalkan meja perundingan tetap menjadi risiko yang jelas,” kata Kepala Penelitian Pepperstone Group Ltd, Chris Weston, sebagaimana dilansir Investasi, Kamis, (28/05/2026).
Di sisi lain, sentimen pasar juga dipengaruhi laporan penurunan stok minyak mentah di AS. American Petroleum Institute (API) mencatat persediaan minyak mentah komersial nasional turun 2,8 juta barel pada pekan lalu, termasuk penurunan cadangan di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma.
“Pasar minyak saat ini sangat rendah,” kata pakar strategi energi global Rabobank, Joe DeLaura.
Menurut Joe DeLaura, pelepasan cadangan minyak strategis serta menurunnya impor minyak dari China turut menahan dampak gangguan pasokan akibat konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan memengaruhi volatilitas harga energi global dalam beberapa waktu ke depan. []
Penulis: Dian Pratiwi | Penyunting: Redaksi01
