Saham Semikonduktor Melonjak, Wall Street Ditutup Menguat
NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (21/07/2026), didorong reli saham-saham sektor semikonduktor yang kembali menarik minat investor menjelang musim laporan keuangan perusahaan teknologi. Penguatan tersebut membuat perhatian pelaku pasar beralih dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan isu tarif impor yang sebelumnya membayangi perdagangan.
Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average naik 385,38 poin atau 0,74 persen menjadi 52.224,64. Sementara itu, indeks Standard & Poor’s 500 (S&P 500) menguat 65,92 poin atau 0,89 persen ke level 7.509,20, sedangkan indeks Nasdaq Composite melonjak 329,13 poin atau 1,29 persen menjadi 25.837,21.
Penguatan dipimpin sektor teknologi informasi yang naik 2,35 persen. Saham perusahaan semikonduktor mencatatkan kenaikan signifikan, di antaranya Sandisk yang melonjak 14,3 persen, Western Digital naik 12,5 persen, serta Micron Technology menguat 12,2 persen. Indeks Philadelphia Semiconductor Index (SOX) juga melesat 5,2 persen.
Minat beli terhadap saham semikonduktor meningkat seiring antisipasi investor terhadap rilis laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar, seperti Alphabet, Intel, dan Texas Instruments. Optimisme tersebut mendorong pelaku pasar kembali masuk ke sektor teknologi setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat kekhawatiran terhadap valuasi saham.
Kepala Strategi Investasi (Chief Investment Strategist) 248 Ventures Lindsey Bell menilai aksi beli saham semikonduktor dipengaruhi kekhawatiran investor kehilangan momentum kenaikan harga atau fear of missing out (FOMO).
“Investor kembali melakukan aksi beli pada saham semikonduktor sebelum rilis laporan keuangan karena dipicu kekhawatiran kehilangan momentum (fear of missing out atau FOMO),” ujar Bell, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Rabu (22/07/2026).
Menurut Bell, pelaku pasar memperkirakan kinerja dan proyeksi emiten teknologi berpotensi melampaui ekspektasi. Namun, ia mengingatkan bahwa lonjakan harga saham sebelum laporan keuangan dirilis dapat membatasi ruang penguatan berikutnya karena ekspektasi pasar sudah berada pada level yang tinggi.
Di tengah reli saham teknologi, pasar relatif mengesampingkan sentimen negatif dari kenaikan harga minyak dunia akibat ancaman blokade Laut Merah serta rencana Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif impor sebesar 50 persen terhadap produk asal Kanada.
Pada pekan sebelumnya, saham-saham semikonduktor sempat terkoreksi karena meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tingginya valuasi dan besarnya investasi pada sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI). Meski demikian, secara year-to-date (YTD), indeks SOX masih mencatatkan kenaikan hampir 75 persen, menunjukkan sektor tersebut tetap menjadi salah satu penggerak utama pasar saham AS sepanjang 2026. []
Redaksi01
