Pemerintah Bidik Industri RI Naik Kelas Usai Hilirisasi Diakui Dunia
JAKARTA – Penguatan kapasitas industri nasional menjadi pekerjaan rumah berikutnya setelah kebijakan hilirisasi Indonesia mendapat pengakuan internasional sebagai salah satu praktik terbaik dalam transformasi industri. Pemerintah menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, hingga penguatan industri pendukung menjadi kunci agar Indonesia mampu naik kelas dalam rantai pasok global.
Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Tri Supondy dalam acara Indonesia Development Talks di Jakarta, Kamis (23/07/2026).
Tri menjelaskan kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah merupakan strategi jangka panjang untuk mengubah struktur industri nasional dari yang selama ini bergantung pada ekspor bahan baku menjadi industri yang menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
“Kebijakan hilirisasi Indonesia merupakan bagian dari strategi untuk mengubah struktur industri nasional dari yang bergantung pada ekspor bahan mentah menjadi industri yang menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” ujar Tri, sebagaimana diberitakan Antara, Kamis (23/07/2026).
Menurut Tri, langkah tersebut mendapat apresiasi dari Industrial Development Report (IDR) yang diterbitkan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO). Laporan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu best practice dalam pengembangan industri berbasis hilirisasi, terutama pada sektor pengolahan mineral kritis dan industri kendaraan listrik.
Ia menjelaskan Industrial Development Report merupakan publikasi UNIDO yang memuat analisis tren industrialisasi global sekaligus rekomendasi kebijakan bagi negara-negara anggota dalam menghadapi perubahan lanskap industri dunia.
Pengakuan tersebut, lanjut Tri, menunjukkan bahwa transformasi ekonomi Indonesia melalui peningkatan nilai tambah sumber daya alam, pengembangan industri manufaktur, dan pembangunan ekosistem kendaraan listrik mulai memperoleh perhatian di tingkat internasional.
“Tantangan berikutnya adalah memperkuat kapabilitas industri nasional agar mampu memainkan peran yang lebih besar dalam rantai nilai global (global value chain),” kata Tri.
Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah menilai peningkatan kapasitas domestik harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pengembangan kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, inovasi, peningkatan kemampuan manufaktur, serta penguatan industri pendukung.
“Upaya ini bertujuan agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi mampu bertransformasi menjadi negara yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi,” ujar dia.
Pada kesempatan yang sama, Asian Development Bank (ADB) menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pembangunan sektor industri di Indonesia. Dukungan tersebut diarahkan agar pengembangan industri mampu menciptakan lapangan kerja yang inklusif sekaligus menghasilkan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.
“ADB akan terus bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk membantu mewujudkan potensi tersebut menjadi lapangan kerja yang inklusif dan bernilai tambah tinggi bagi masyarakat Indonesia,” ujar Kepala Perwakilan ADB untuk Indonesia, Bobur Alimov.
Kolaborasi antara pemerintah dan lembaga internasional diharapkan mampu memperkuat daya saing industri nasional sehingga hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga memperluas kesempatan kerja, memperkuat struktur manufaktur, serta meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai nilai global. []
Redaksi01
