Lansia Asal Alassumur Lor Probolinggo Tak Tersentuh Bansos

PROBOLINGGO – Di usia 70 tahun, Nenek Asto masih harus berjualan rujak setiap hari untuk bertahan hidup. Ia mengaku namanya berkali-kali didata sebagai calon penerima bantuan sosial, tapi hingga kini satu rupiah pun belum sampai ke tangannya.

Setiap pagi, perempuan yang telah lama menjanda itu berjualan hingga pukul 21.00 WIB di Blok Dawuhan RT 011, Desa Alassumur Lor, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, dengan peralatan sederhana untuk menjual rujaknya. Tak ada yang istimewa dari rutinitasnya, kecuali kenyataan bahwa di usia senja ia masih harus berjuang sendiri tanpa uluran bantuan yang selama ini disebut-sebut pernah diusulkan untuknya.

“Kuleh tak pernah Olle bantuan sekaleh, padahal pon edata bik perangkat disah, bantuan lansia, cukai, bedah rumah sobung nekah (redΒ  : saya belum pernah menerima bantuan sama sekali padahal sudah didata, baik lansia, cukai dan bedah rumah,” kata Nenek Asto dengan logat maduranya yang kental.

Ironisnya, pengakuan tersebut bukan kali pertama disampaikan. Nama Nenek Asto disebut telah beberapa kali masuk dalam pendataan untuk berbagai program bantuan, mulai bantuan lansia, Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), hingga program bedah rumah. Namun, hingga kini tidak ada bantuan yang benar-benar diterimanya.

Untuk menelusuri persoalan tersebut, jurnalis mengajukan konfirmasi kepada Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Desa Alassumur Lor, Kecamatan Besuk, Farisa Rahman, pada Kamis (23/7/2026). Sejumlah pertanyaan diajukan, antara lain mengenai status Nenek Asto dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) maupun Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), hasil verifikasi dan validasi data, serta kemungkinan dilakukan kunjungan langsung (home visit) mengingat kondisi Nenek Asto yang telah lanjut usia.

Namun, respons yang diberikan belum menjawab substansi pertanyaan yang diajukan. Farisa Rahman tidak memberikan keterangan mengenai status data Nenek Asto, hasil verifikasi dan validasi, maupun apakah pendampingan melalui home visit pernah dilakukan. Ia justru meminta Nenek Asto datang ke kantor untuk dilakukan pengecekan data.

“Monggo bapak bisa ke kantor kami besok pagi jam 07.30,” tulis Farisa melalui pesan WhatsApp.

Farisa juga meminta agar membawa dokumen kependudukan sebagai syarat pengecekan.

“Mohon membawa data kependudukan baik KTP/KK yang bersangkutan, sehingga kami bisa mengecek langsung di aplikasi kami,” pungkasnya.

Respons tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pola pendampingan terhadap warga lanjut usia yang telah berkali-kali didata tetapi belum menerima bantuan. Permintaan agar datang ke kantor juga belum menjawab pertanyaan jurnalis mengenai status data Nenek Asto maupun kemungkinan telah atau belum dilakukannya verifikasi lapangan dan home visit, mengingat usia serta kondisi sosial ekonomi yang bersangkutan.

Pengecekan dijadwalkan berlangsung pada Jumat (24/7/2026) pukul 07.30 WIB. Namun bagi Nenek Asto, proses tersebut bukan pengalaman baru. Ia mengaku telah berulang kali didata dan menunggu kepastian, tetapi hingga kini tetap menjalani hari-harinya dengan berjualan rujak demi memenuhi kebutuhan hidup, tanpa bantuan sosial yang selama ini diharapkannya. (rac)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *