Gebang Expo 2026 Hadirkan Sembako Murah, Pemkab Purworejo Tekan Inflasi
PURWOREJO – Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo menekan laju inflasi kembali diperkuat melalui penyediaan sembako bersubsidi pada Gebang Expo 2026. Selama pelaksanaan pameran yang berlangsung pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026, masyarakat dapat membeli sejumlah kebutuhan pokok dengan harga lebih rendah dibandingkan harga normal sebagai bagian dari program stabilisasi harga yang dijalankan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).
Program tersebut menghadirkan tiga komoditas utama, yakni beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), telur ayam, dan MinyaKita. Kegiatan ini menjadi salah satu daya tarik Gebang Expo bertema “Temu Karya Tumbuh Bersama Gebang Gemilang” sekaligus bentuk intervensi pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika harga pangan.
Direktur Perusahaan Umum Daerah Aneka Usaha (Perumda Aneka Usaha/PDAU) Kabupaten Purworejo, Rainier, mengatakan penyediaan sembako murah merupakan hasil kolaborasi PDAU dengan Camat Gebang melalui TPID.
“Kami dari PDAU bekerja sama dengan Camat Gebang melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah. Kami menghadirkan tiga produk kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Purworejo24, Jumat, (31/07/2026).
Menurut Rainier, telur ayam yang semula dijual Rp22.500 dapat dibeli masyarakat seharga Rp20.500 dengan menggunakan kupon subsidi. Sementara itu, beras SPHP kemasan lima kilogram dijual Rp60.500 dari harga normal Rp62.500. Adapun MinyaKita yang biasanya dipasarkan Rp31.400 dijual Rp29.400 selama kegiatan berlangsung.
Rainier menjelaskan, penyediaan komoditas tersebut terlaksana berkat kerja sama PDAU dengan Perum Bulog. Meskipun kuota barang yang disediakan terbatas, stok akan dioptimalkan selama tiga hari pelaksanaan Gebang Expo.
“Kami bekerja sama dengan Bulog. Walaupun kuotanya terbatas, kami akan mengoptimalkan seluruh stok yang tersedia selama tiga hari pelaksanaan Gebang Expo agar masyarakat dapat menikmati sembako murah,” katanya.
Ia menambahkan, masyarakat yang tidak memiliki kupon tetap dapat membeli komoditas tersebut dengan harga normal sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
Selain menghadirkan sembako murah di arena expo, PDAU juga mengoperasikan Toko Pengendali Inflasi di kawasan Pasar Baledono sebagai sarana distribusi kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
“PDAU memiliki Toko Pengendali Inflasi di Baledono. Masyarakat yang berada di sekitar wilayah tersebut dapat berbelanja kebutuhan pokok di sana,” jelasnya.
Rainier mengatakan PDAU juga mengembangkan usaha peternakan ayam petelur yang terbuka untuk kerja sama dengan masyarakat maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“Kami juga mengembangkan usaha ayam petelur. Jadi apabila masyarakat ataupun BUMDes ingin bekerja sama, kami siap mendukung. Intinya kami sangat mendukung program pemerintah dalam pengendalian inflasi daerah,” ungkap Rainier.
Ia berharap seluruh masyarakat dapat merasakan manfaat program tersebut.
“Harapannya semua masyarakat bisa menikmati program ini secara adil dan merata,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Purworejo, Ari Wibowo, mengatakan strategi pengendalian inflasi daerah dijalankan melalui empat pilar, yaitu menjaga stabilitas harga, memastikan ketersediaan pasokan, menjaga kelancaran distribusi, serta memperkuat komunikasi kepada masyarakat.
“Melalui PDAU yang kami tugaskan sebagai pengelola Toko Pengendali Inflasi, kami bekerja sama dengan Bulog untuk menjaga stabilitas harga, khususnya komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi,” jelas Ari.
Ia menyebut beras SPHP, MinyaKita, dan telur dipilih karena merupakan komoditas pangan yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan inflasi daerah.
“Telur menjadi salah satu komoditas penting karena merupakan sumber protein masyarakat. Ketika harga telur naik, dampaknya juga akan berpengaruh terhadap inflasi,” katanya.
Menurut Ari, keberadaan Toko Pengendali Inflasi juga disosialisasikan melalui Gebang Expo agar masyarakat mengetahui alternatif memperoleh kebutuhan pokok dengan harga sesuai ketentuan pemerintah. Bahkan, layanan tersebut dapat menjangkau desa-desa yang mengalami disparitas harga.
“Kalau ada desa yang harga kebutuhan pokoknya tinggi, mereka bisa menghubungi PDAU agar menyediakan bahan pokok dengan harga sesuai ketentuan pemerintah,” ujarnya.
Selain melalui PDAU, Pemkab Purworejo juga menjalankan pengendalian inflasi melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) yang rutin menggelar Gerakan Pangan Murah serta Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (DinKUKMP) yang melaksanakan operasi pasar ketika terjadi kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada komoditas tertentu.
“Selama ini langkah-langkah tersebut masih efektif. IPH Kabupaten Purworejo masih terkendali. Setiap minggu kami terus memantau perkembangan harga dan apabila ada komoditas yang mengalami kenaikan signifikan, TPID akan segera melakukan tindakan,” terang Ari.
Ia juga mengimbau masyarakat tidak melakukan panic buying apabila terjadi kenaikan harga pada komoditas tertentu karena pemerintah terus melakukan pemantauan dan intervensi sesuai kebutuhan.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak panik apabila terjadi kenaikan harga pada komoditas tertentu. Jangan melakukan panic buying karena pemerintah terus memantau dan akan melakukan langkah pengendalian,” katanya.
Ari mengajak masyarakat memanfaatkan Toko Pengendali Inflasi yang telah beroperasi sekitar dua bulan di Pasar Baledono, termasuk melalui layanan distribusi ke desa apabila diperlukan.
“Kalau harga di pasar dirasa mahal, silakan datang ke Toko Pengendali Inflasi. Bahkan jika lokasinya jauh, masyarakat dapat menghubungi PDAU agar komoditas tertentu bisa diantar ke desa-desa,” jelasnya.
Ia berharap keberadaan fasilitas tersebut semakin dikenal luas sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak masyarakat.
“Kami mohon rekan-rekan media membantu mempublikasikan bahwa Kabupaten Purworejo memiliki Toko Pengendali Inflasi yang dioperasikan PDAU bekerja sama dengan Bulog. Toko ini sudah aktif sekitar dua bulan. Bahkan untuk telur, PDAU memiliki peternakan sendiri sehingga harganya lebih murah karena langsung dari kandang tanpa melalui banyak mata rantai distribusi,” pungkasnya. []
Redaksi01
