Bulog Dapat Diskon Bunga Bank 3 Persen, Margin Naik Jadi 7 Persen
JAKARTA – Perum Bulog memproyeksikan kondisi keuangannya berbalik positif pada akhir 2026 setelah memperoleh kebijakan penurunan bunga pinjaman perbankan dan peningkatan margin penjualan. Langkah tersebut dinilai membuka ruang bagi perusahaan untuk menyiapkan program beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan harga seragam di seluruh Indonesia.
Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhan mengatakan dukungan pemerintah berupa penurunan bunga pinjaman menjadi faktor utama yang dapat memperkuat kondisi keuangan perusahaan. Menurutnya, bunga pinjaman yang sebelumnya berada pada kisaran 7 hingga 8 persen kini turun menjadi sekitar 5 persen, dengan subsidi bunga sebesar 2 persen dari pemerintah sehingga beban yang ditanggung Bulog hanya sekitar 2 hingga 3 persen.
“Dukungan kepada Bulog yaitu pengurangan bunga bank, yang biasanya 7 sampai 8 persen diturunkan 2 sampai 3 persen. Ini luar biasa dan dampak dari pengurangan bunga bank tersebut Bulog mampu untuk mengurangi biaya pembayaran bunga dalam satu tahun lebih dari Rp 1,07 triliun,” ungkapnya di Kantor Pusat Bulog, Senin (03/08/2026), sebagaimana dilansir Kumparan, Senin (03/08/2026).
Rizal menjelaskan kebijakan tersebut telah memperoleh persetujuan Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, serta Menteri Sekretaris Negara. Menurutnya, besaran bunga yang diterapkan tahun ini merupakan yang terendah sepanjang Bulog memperoleh fasilitas pembiayaan.
“Ini suatu prestasi yang luar biasa dan ini baru kali ini Bulog diberikan bunga yang begitu rendah 3 persen, dari pemerintah diberikan tambahan subsidi bunga 2 persen dari pemerintah,” jelasnya.
Selain keringanan bunga pinjaman, Bulog juga memperoleh peningkatan margin penjualan berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadanas) Nomor 3 Tahun 2026. Margin yang sebelumnya sebesar Rp50 per kilogram kini menjadi 7 persen atau setara sekitar Rp970 per kilogram.
“Margin Bulog yang dulunya per kilo Rp 50, sekarang menjadi 7 persen itu kalau dikalkulasikan dengan angka menjadi sekitar Rp 970. Sehingga dengan Rp 970 tersebut kalau diperhitungkan sampai dengan akhir tahun maka diproyeksikan neraca keuangan Bulog akan menjadi positif yaitu sekitar Rp 1,14 triliun,” tutur Rizal.
Apabila proyeksi tersebut terealisasi, Bulog berencana mengusulkan pelaksanaan program beras SPHP Satu Harga. Skema itu diharapkan mampu menghadirkan harga beras medium yang seragam di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke.
“Dalam rencana kami di awal apabila sudah positif keuangan kita, kita akan buat seperti Pertamina yang mampu membuat harga (BBM) satu harga dari Sabang sampai dengan Merauke. Insyaallah Bulog juga kalau memang sudah positif kita akan ajukan ke pemerintah jika diizinkan kami buat harga beras medium yaitu beras SPHP satu harga Rp 11.000,” tandas Rizal.
Melalui kebijakan tersebut, Bulog berharap efisiensi biaya operasional dapat meningkatkan kesehatan keuangan perusahaan sekaligus memperkuat peran dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga beras nasional. []
Redaksi01
