Transformasi Digital Jadi Kunci Daya Saing Industri dan Hilirisasi Nikel

JAKARTA – Penguatan transformasi digital dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing industri nasional, termasuk sektor mineral strategis yang tengah didorong pemerintah melalui program hilirisasi. Pemanfaatan teknologi digital diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta memperkuat nilai tambah industri berbasis sumber daya alam.

Isu tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Digital Transformation Indonesia (DTI) Series dan Fiber Resilience Conference & Expo 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (05/08/2026). Forum tersebut mempertemukan pemerintah, regulator, pelaku industri, penyedia teknologi, akademisi, dan berbagai asosiasi guna membahas arah pengembangan ekosistem digital nasional.

Presiden dan Direktur (Dirut) Ad House Clarion Event selaku penyelenggara DTI Series 2026, Toerangga Putra, mengatakan transformasi digital kini tidak lagi hanya dinilai dari penerapan teknologi, tetapi dari dampaknya terhadap peningkatan daya saing industri.

“Transformasi digital tidak lagi diukur hanya dari teknologi yang diimplementasikan, tetapi dari seberapa efektif teknologi tersebut meningkatkan produktivitas, memperkuat kompetensi nasional, menarik investasi, dan memberikan dampak nyata,” ujar Toerangga, sebagaimana diberitakan Nikel, Rabu (05/08/2026).

Menurut Toerangga, perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI), Internet of Things (IoT), otomatisasi, serta pengelolaan data industri menjadi elemen penting dalam membangun sistem industri yang lebih efisien, kompetitif, dan berkelanjutan.

Salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang besar memanfaatkan transformasi digital ialah industri nikel. Sebagai negara dengan cadangan nikel yang besar, Indonesia terus mendorong hilirisasi agar komoditas tersebut tidak lagi hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah melalui rantai industri turunannya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan bahwa pengembangan industri masa depan memerlukan integrasi antara teknologi digital, infrastruktur, dan pasokan energi yang memadai.

“Digitalisasi industri menjadi penting karena ke depan perkembangan AI, data center, dan teknologi otomatisasi akan menjadi bagian utama dalam pembangunan ekonomi,” ujarnya.

Airlangga menambahkan, penguatan infrastruktur energi dan konektivitas antardaerah menjadi faktor penting untuk mendukung operasional sektor industri yang membutuhkan konsumsi energi tinggi, termasuk industri berbasis mineral strategis.

Penerapan teknologi digital pada industri nikel juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat pengawasan proses produksi, meningkatkan transparansi rantai pasok, serta mendukung penerapan standar industri yang lebih berkelanjutan.

Toerangga menegaskan keberhasilan transformasi digital tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, penyedia teknologi, akademisi, dan komunitas profesional menjadi fondasi dalam membangun ekosistem digital yang mampu mendorong pertumbuhan industri nasional.

Melalui DTI 2026, berbagai isu strategis dibahas, mulai dari infrastruktur digital, keamanan siber, kecerdasan buatan, data center, konektivitas, hingga perkembangan ekonomi digital. Forum tersebut diharapkan mampu memperkuat sinergi lintas sektor sehingga transformasi digital dapat mendukung peningkatan daya saing industri Indonesia di tingkat global serta mempercepat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *