Rupiah Kembali Tertekan, Ditutup di Rp17.862 per Dolar AS
JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (18/08/2026). Rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.862 per dolar AS, melemah 0,36 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.798 per dolar AS.
Pelemahan tersebut menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia yang terkoreksi pada perdagangan hari itu. Pergerakan mata uang regional berlangsung beragam karena sebagian mata uang Asia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS, sementara beberapa lainnya justru berhasil menguat.
Data perdagangan hingga pukul 15.00 WIB menunjukkan peso Filipina menjadi mata uang Asia dengan pelemahan paling dalam. Peso Filipina tercatat merosot 0,5 persen terhadap dolar AS.
Tekanan berikutnya terjadi pada dolar Taiwan yang turun 0,36 persen. Yen Jepang juga melemah 0,17 persen, sedangkan baht Thailand terkoreksi 0,16 persen.
Rupee India turut mengalami depresiasi sebesar 0,06 persen. Sementara itu, dolar Singapura melemah 0,05 persen dan yuan China turun tipis 0,03 persen terhadap dolar AS.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap mata uang kawasan tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga mengalami penurunan ketika perdagangan berlangsung, meskipun intensitas pelemahannya berbeda-beda.
Di tengah tekanan tersebut, beberapa mata uang regional masih mampu mencatat penguatan. Won Korea Selatan menjadi mata uang Asia dengan kenaikan terbesar setelah menguat 0,41 persen terhadap dolar AS.
Ringgit Malaysia menyusul dengan penguatan 0,13 persen. Adapun dolar Hong Kong naik tipis 0,005 persen pada perdagangan sore.
Dengan pergerakan yang berlawanan di antara mata uang Asia, posisi rupiah pada akhir perdagangan mencerminkan masih kuatnya tekanan terhadap mata uang domestik. Pelemahan rupiah juga menunjukkan bahwa dinamika pasar valuta asing regional menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mencermati arah pergerakan nilai tukar.
Pergerakan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena perubahan nilai tukar dapat memengaruhi berbagai aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan transaksi dalam dolar AS, termasuk perdagangan internasional dan kebutuhan pembayaran dalam valuta asing.
Perkembangan rupiah dan mata uang Asia selanjutnya masih akan bergantung pada dinamika pasar global serta sentimen terhadap dolar AS. Pelaku pasar akan mencermati perubahan kondisi tersebut untuk melihat apakah tekanan terhadap mata uang kawasan berlanjut atau mulai mereda pada perdagangan berikutnya, sebagaimana diberitakan Kontan, Selasa (18/08/2026). []
Redaksi01
