Harga Minyak Turun, Ancaman Sanksi AS ke Iran Jadi Sorotan

JAKARTA – Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi pada perdagangan Jumat (21/08/2026) pagi, tetapi tekanan tersebut belum menghapus prospek kenaikan harga dalam sepekan. Pasar masih mencermati rencana Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Iran yang dinilai berpotensi mengganggu pasokan minyak global.

Mengutip Bloomberg pada pukul 07.35 WIB, harga WTI untuk pengiriman Oktober 2026 di New York Mercantile Exchange berada di US$86,12 per barel. Harga tersebut turun 0,82% dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya sebesar US$86,83 per barel.

Koreksi terjadi sehari setelah harga minyak melonjak lebih dari 2%. Pergerakan pasar masih dipengaruhi meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran serta kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah AS akan mengumumkan secara lebih rinci sanksi yang akan diberlakukan terhadap Iran pada pekan depan. Langkah tersebut sebelumnya digambarkan Presiden AS Donald Trump sebagai momentum penting dalam tekanan ekonomi terhadap Iran.

Sanksi yang disiapkan Washington tidak hanya berpotensi menyasar Iran. Negara-negara yang masih memiliki hubungan dengan Iran, termasuk China, juga dapat terkena dampak kebijakan tersebut.

Situasi itu menjadi perhatian pasar karena konflik AS-Iran telah meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan energi di Timur Tengah. Ketegangan juga berkaitan dengan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur penting bagi lalu lintas minyak dunia.

Bessent dalam wawancara dengan CNBC mengungkapkan, Washington mengendalikan Selat Hormuz, dan kapal-kapal dapat keluar melalui jalur selatan.

Di tengah ketidakpastian tersebut, harga minyak disebut telah menguat lebih dari 50% sepanjang tahun ini. Pergerakan harga mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan gangguan pasokan apabila konflik di kawasan tersebut kembali meningkat.

Dengan demikian, penurunan WTI pada perdagangan Jumat belum serta-merta menunjukkan perubahan tren. Investor masih menunggu rincian sanksi AS terhadap Iran dan mencermati dampaknya terhadap perdagangan energi, terutama apabila kebijakan tersebut memperbesar risiko gangguan distribusi minyak melalui kawasan strategis Timur Tengah.

Perkembangan tersebut membuat harga minyak berpotensi tetap bergejolak dalam perdagangan berikutnya. Pasar akan mengamati respons Iran, kemungkinan keterlibatan negara mitra dagang Iran, serta dampaknya terhadap pasokan minyak global. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *