Bursa Asia Melemah, Investor Cermati Lonjakan Harga Minyak
JAKARTA – Kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah membayangi pergerakan pasar saham Asia pada perdagangan Selasa (01/09/2026). Sentimen tersebut membuat mayoritas bursa utama di kawasan dibuka melemah, meski sejumlah indeks masih mampu bergerak di zona hijau.
Pada pukul 08.21 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,26 persen ke level 66.141,56. Pelemahan juga terjadi pada indeks Hang Seng yang dibuka turun 0,59 persen menjadi 25.415,72, ASX 200 Australia yang melemah 0,45 persen ke 9.034,70, serta FTSE Straits Times Singapura yang terkoreksi 0,14 persen ke level 5.747,36.
Di Malaysia, FTSE Malay KLCI turut bergerak turun 0,5 persen menjadi 1.717,16. Sementara itu, tidak seluruh bursa Asia bergerak negatif. Indeks Taiex Taiwan justru menguat 0,55 persen menjadi 46.381,95 dan indeks Kospi Korea Selatan naik 0,19 persen ke posisi 6.832,94.
Pergerakan harga minyak menjadi salah satu perhatian utama investor pada awal perdagangan. Harga minyak kembali menguat setelah pada sesi sebelumnya melonjak lebih dari 2,5 persen. Kenaikan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi kembali memanasnya konflik bersenjata di Timur Tengah.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mencermati dampak kenaikan harga energi terhadap prospek ekonomi dan pergerakan pasar keuangan. Harga minyak yang meningkat berpotensi menambah tekanan terhadap biaya energi dan memengaruhi sentimen investor di sejumlah pasar saham.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, investor juga menantikan sejumlah indikator ekonomi dari kawasan Asia. Pasar pada hari ini mencermati rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Jepang dan Korea Selatan sebagai salah satu petunjuk mengenai kondisi aktivitas industri di kedua negara.
Perbedaan arah pergerakan indeks menunjukkan respons investor yang beragam terhadap kombinasi sentimen geopolitik dan perkembangan ekonomi regional. Bursa yang mampu bertahan di zona positif dinilai masih mendapatkan dukungan dari faktor domestik, sementara pasar lain lebih tertekan oleh meningkatnya ketidakpastian global.
Pasar Asia sebelumnya juga menghadapi tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran atas konflik di Timur Tengah yang beriringan dengan lonjakan harga minyak. Situasi tersebut kembali menempatkan komoditas energi sebagai salah satu faktor penting yang memengaruhi arah perdagangan saham.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat memengaruhi biaya produksi dan transportasi, terutama bagi negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi. Sebaliknya, kondisi tersebut juga dapat memberikan sentimen berbeda bagi sejumlah sektor yang berkaitan langsung dengan industri energi.
Selain perkembangan geopolitik, arah perdagangan sepanjang hari diperkirakan akan dipengaruhi oleh respons pasar terhadap data PMI manufaktur Jepang dan Korea Selatan. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor untuk mengukur kekuatan aktivitas manufaktur di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dengan demikian, pergerakan pasar Asia pada perdagangan Selasa diperkirakan tetap dibayangi volatilitas. Investor akan terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak, serta data ekonomi terbaru dari kawasan Asia, sebagaimana dilansir Kontan, Selasa, (01/09/2026). []
Redaksi01
