Nusa Penida Ramai Turis, Hotel Kecil Justru Banyak yang Kosong

KLUNGKUNG – Ramainya kunjungan wisatawan ke Nusa Penida, Klungkung, Bali, belum otomatis membuat seluruh pelaku usaha akomodasi kebagian manfaat. Hotel-hotel kecil dan menengah justru menghadapi tingkat hunian rendah saat musim ramai, sementara wisatawan yang datang ke pulau tersebut banyak yang memilih berkunjung tanpa menginap.

Kondisi itu terlihat dari tingkat okupansi sejumlah hotel menengah ke bawah yang masih rendah. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Klungkung, I Putu Darmaya, menyebut rata-rata tingkat hunian hotel di Nusa Penida hanya sekitar 30 persen saat high season yang memasuki akhir September 2026.

Ketimpangan tersebut semakin terlihat jika dibandingkan dengan hotel berukuran besar yang menawarkan fasilitas lebih lengkap. Hotel dengan restoran, hiburan malam, pusat kebugaran, dan fasilitas penunjang lainnya dinilai lebih mampu menarik wisatawan untuk tinggal lebih lama.

“Paling rata-rata 30% (okupansinya). Kadang-kadang kalau hotel kecil bisa cuma 10%, tetapi kalau hotel-hotel besar selalu penuh. Ini karena fasilitasnya lengkap. Ada restoran, hiburan malam, gym, dan fasilitas penunjang lainnya. Sedangkan hotel-hotel kecil rata-rata tidak ada restoran dan service-nya kurang. Jadi hanya menyediakan tempat menginap saja,” kata Darmaya.

Menurut Darmaya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi ratusan usaha penginapan yang menyasar wisatawan dengan kemampuan belanja berbeda. Berdasarkan data PHRI Klungkung, terdapat sekitar 460 hotel menengah ke bawah yang terdata di Nusa Penida. Jumlah tersebut diperkirakan masih bertambah apabila akomodasi yang belum terdata secara resmi turut dihitung.

Persoalan tidak hanya berada pada fasilitas hotel. Infrastruktur kawasan juga dinilai ikut menentukan kenyamanan wisatawan ketika hendak memperpanjang masa tinggal. Pemilik Putri Nusa Hotel di Ped, Nusa Penida, I Gusti Kertayasa, mengatakan hotelnya yang memiliki 18 kamar masih jarang terisi penuh meskipun memasuki musim ramai.

Hotel tersebut bahkan disebut lebih sering penuh ketika berlangsung hari raya seperti purnama dan tilem yang diikuti wisatawan lokal. Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara belum memberikan dampak yang sama terhadap tingkat hunian.

“Kalau mancanegara sangat sepi. Kalau dahulu sebelum COVID-19 selalu ramai. Sekarang beginilah kondisinya,” kata Kertayasa kepada detikBali, sebagaimana diberitakan Detik, Senin (07/09/2026).

Kertayasa menilai kondisi jalan dan penerangan di sejumlah wilayah Nusa Penida masih menjadi persoalan. Jalan yang gelap pada malam hari dinilai dapat mengurangi kenyamanan wisatawan untuk beraktivitas setelah siang hari mengunjungi berbagai destinasi.

Keterbatasan fasilitas pendukung juga dirasakan dari jam operasional warung dan toko. Minimnya tempat yang dapat diakses wisatawan pada malam hari membuat aktivitas wisata setelah waktu kunjungan utama menjadi terbatas.

“Ya, masih pagi sudah tutup warung-warung di sini. Ditambah ada perbaikan jalan yang berdebu ini, jadinya lebih pagi tutupnya,” tutur Kertayasa.

Di tengah persoalan tersebut, karakter wisatawan yang datang ke Nusa Penida turut memengaruhi tingkat hunian hotel. Darmaya menyebut wisatawan dari pasar Asia, terutama China dan India, kini banyak memadati kawasan wisata tersebut. Namun, sebagian besar hanya melakukan perjalanan selama satu hari sehingga tidak memberikan kontribusi besar terhadap bisnis penginapan.

Pola kunjungan satu hari membuat tingginya jumlah wisatawan tidak selalu berbanding lurus dengan tingginya okupansi hotel. Bagi pelaku usaha akomodasi, tantangan berikutnya bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga membuat mereka memiliki alasan untuk memperpanjang waktu tinggal di Nusa Penida.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung kini berupaya memperbaiki salah satu persoalan mendasar tersebut melalui pembangunan infrastruktur jalan. Pemkab Klungkung mengalokasikan anggaran hingga ratusan miliar rupiah untuk pembangunan jalan hotmix di puluhan ruas yang mengarah ke sejumlah daya tarik wisata (DTW).

Perbaikan akses tersebut diharapkan tidak hanya memudahkan mobilitas wisatawan menuju destinasi, tetapi juga memperkuat ekosistem pariwisata di kawasan tersebut. Dengan infrastruktur yang lebih baik dan fasilitas penunjang yang memadai, pelaku hotel kecil dan menengah diharapkan dapat memperoleh manfaat lebih besar dari arus wisatawan yang datang ke Nusa Penida. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *