IHSG Turun 0,12% di Sesi I, Saham Energi Justru Menguat

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan Senin (07/09/2026) sesi pertama. Meski indeks utama terkoreksi, penguatan saham-saham sektor energi menjadi penahan laju pelemahan IHSG sekaligus mengangkat sejumlah saham anggota indeks LQ45.

Pada penutupan perdagangan sesi pertama pukul 12.00 WIB, IHSG turun 8,286 poin atau 0,12% ke level 6.628,189. Tekanan terhadap indeks terutama datang dari sejumlah sektor dengan kapitalisasi besar, sementara sektor energi dan kesehatan justru mencatat penguatan cukup signifikan.

IDX Sektor Energi menjadi sektor dengan kenaikan paling tinggi pada perdagangan sesi pertama. Indeks sektor tersebut melonjak 1,61%. Kinerja positif sektor energi turut tercermin dari pergerakan sejumlah saham yang masuk jajaran top gainers LQ45.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi saham dengan penguatan paling tinggi dalam daftar top gainers LQ45. Saham BUMI naik 6,67% hingga akhir sesi pertama.

Di posisi berikutnya, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 4,51%. Sementara itu, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatat kenaikan 4,22%.

Pergerakan ketiga saham tersebut menunjukkan bahwa saham berbasis komoditas menjadi salah satu penopang pasar ketika IHSG secara keseluruhan mengalami tekanan. Kinerja sektor energi bahkan menjadi kontras dengan pelemahan sejumlah sektor lain pada perdagangan hari ini.

Selain energi, IDX Sektor Kesehatan juga mencatat kenaikan kuat sebesar 1,53%. Kemudian IDX Sektor Transportasi dan Logistik menguat 0,47%, sedangkan IDX Sektor Perindustrian naik 0,42%.

Penguatan juga terjadi pada IDX Sektor Barang Konsumen Primer yang naik 0,26% serta IDX Sektor Infrastruktur yang bertambah 0,22%.

Di sisi lain, tekanan paling dalam terjadi pada IDX Sektor Properti dan Real Estate yang turun 0,54%. Berikutnya, IDX Sektor Teknologi terkoreksi 0,46%, IDX Sektor Keuangan turun 0,43%, dan IDX Sektor Barang Baku melemah 0,41%.

IDX Sektor Barang Konsumen Non-Primer juga berakhir di zona merah dengan penurunan 0,18%.

Rotasi kinerja antarsektor tersebut membuat pergerakan IHSG relatif terbatas meskipun terdapat sejumlah saham yang mampu mencatat kenaikan signifikan. Kondisi pasar juga terlihat dari jumlah saham yang bergerak turun dan naik yang hampir berimbang.

Berdasarkan data perdagangan hingga akhir sesi pertama, sebanyak 292 saham mengalami penurunan harga. Sebanyak 293 saham berhasil menguat, sedangkan 203 saham lainnya bergerak mendatar.

Aktivitas transaksi juga cukup ramai. Total volume perdagangan saham mencapai 24,56 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp8,47 triliun.

Berbeda dengan tiga saham yang menjadi top gainers, beberapa saham LQ45 justru mengalami tekanan cukup besar. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) menjadi saham dengan penurunan terdalam dalam daftar tersebut, yakni sebesar 2,13%.

Selanjutnya, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) masing-masing turun 1,75%.

Dengan demikian, perdagangan sesi pertama memperlihatkan adanya perbedaan arah yang cukup tajam antarsektor. Ketika saham properti, teknologi, keuangan, dan barang baku berada di bawah tekanan, saham energi justru bergerak agresif dan menjadi salah satu sumber penguatan di pasar.

Pergerakan saham BUMI, PTBA, dan AADI menjadi perhatian karena ketiganya mampu mencatat kenaikan lebih dari 4% hingga 6% dalam perdagangan sesi pertama. Namun, arah IHSG pada sesi berikutnya tetap akan bergantung pada kekuatan aksi beli dan jual di berbagai sektor serta pergerakan saham berkapitalisasi besar.

Data perdagangan tersebut sebagaimana diberitakan Kontan, Senin (07/09/2026), menunjukkan bahwa pelemahan IHSG tidak terjadi secara merata. Sebagian sektor masih mampu mencatat penguatan dan memberikan ruang bagi sejumlah saham untuk bergerak positif meskipun indeks utama berada di zona merah. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *