Rupiah Berbalik Menguat, Ditutup di Rp17.640 per Dolar AS

JAKARTA – Rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Senin (07/09/2026) di zona penguatan, meski kenaikannya sangat tipis. Pergerakan mata uang Garuda tersebut berlangsung sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan.

Mengacu pada perdagangan pasar spot, rupiah ditutup di level Rp17.640 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 0,01 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (04/09/2026) yang berada di level Rp17.642 per dolar AS.

Penguatan rupiah menjadi bagian dari tren positif yang terjadi di kawasan Asia. Hingga pukul 15.00 WIB, sejumlah mata uang regional tercatat mengalami apresiasi terhadap dolar AS.

Yen Jepang menjadi mata uang Asia dengan penguatan paling besar pada perdagangan tersebut. Yen melonjak 0,46 persen, sekaligus menjadi mata uang regional dengan kenaikan tertinggi dibandingkan sejumlah mata uang lainnya.

Dolar Taiwan menyusul dengan penguatan sebesar 0,29 persen. Pergerakan tersebut kemudian diikuti baht Thailand yang naik 0,16 persen serta won Korea Selatan yang menguat 0,12 persen.

Sebagaimana diberitakan Kontan, Senin (07/09/2026), peso Filipina juga tercatat mengalami apresiasi sebesar 0,06 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, rupee India menguat 0,04 persen dan dolar Singapura naik 0,03 persen.

Dolar Hong Kong menjadi mata uang Asia lainnya yang masih berada di zona positif, meskipun penguatannya relatif terbatas. Mata uang tersebut tercatat naik 0,009 persen terhadap dolar AS hingga perdagangan sore.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan rupiah berlangsung di tengah kecenderungan positif sejumlah mata uang utama di kawasan. Namun, laju apresiasi rupiah masih jauh lebih kecil dibandingkan penguatan yen Jepang dan dolar Taiwan.

Di sisi lain, tidak seluruh mata uang Asia mampu mempertahankan posisi positif. Ringgit Malaysia justru menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan pada perdagangan tersebut.

Ringgit terkoreksi 0,06 persen terhadap dolar AS. Pelemahan juga dialami yuan China yang turun tipis 0,02 persen terhadap mata uang AS.

Dengan pergerakan tersebut, rupiah mampu mempertahankan posisi positif meskipun penguatannya hanya 0,01 persen. Level Rp17.640 per dolar AS sekaligus menandai perubahan arah dari penutupan sebelumnya setelah rupiah pada Jumat berada di Rp17.642 per dolar AS.

Pergerakan mata uang regional menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca arah rupiah. Ketika sebagian besar mata uang Asia bergerak menguat terhadap dolar AS, tekanan terhadap mata uang regional cenderung lebih rendah dibandingkan ketika dolar AS menguat secara luas.

Meski demikian, rupiah masih berada pada level yang perlu dicermati karena nilai tukarnya bertengger di atas Rp17.000 per dolar AS. Pergerakan berikutnya akan menjadi perhatian pelaku pasar untuk melihat apakah penguatan tipis pada awal pekan dapat berlanjut atau kembali menghadapi tekanan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *