Wall Street Melemah Saat Yield Treasury AS Tembus 5 Persen

NEW YORK – Kenaikan imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun hingga menembus 5 persen menjadi salah satu tekanan utama bagi Wall Street pada Senin (14/09/2026). Kondisi tersebut terjadi menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan berlangsung bersamaan dengan aksi jual saham perusahaan kecerdasan buatan (AI) serta produsen chip.

Indeks utama Wall Street pun ditutup di zona merah. Indeks S&P 500 turun 0,48 persen menjadi 7.619,94 poin, Nasdaq melemah 0,56 persen ke level 26.186,41 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,29 persen menjadi 52.421,17 poin, sebagaimana diberitakan Kumparan, Selasa, (15/9/2026).

Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun sempat melewati 5 persen pada perdagangan tersebut. Level itu menjadi perhatian pasar karena kenaikan imbal hasil obligasi dapat mengurangi daya tarik relatif saham AS sekaligus meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan dan pemerintah.

Tekanan terhadap pasar obligasi telah berlangsung dalam sebulan terakhir. Inflasi yang masih tinggi, besarnya kebutuhan pembiayaan korporasi dan pemerintah, serta kekhawatiran mengenai arah kebijakan fiskal AS dalam jangka panjang menjadi sejumlah faktor yang mendorong imbal hasil Treasury bergerak naik.

Situasi tersebut membuat perhatian investor tertuju pada pertemuan The Fed pekan ini. Berdasarkan CME FedWatch, para trader memperkirakan peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat kebijakan pada Rabu mencapai 90 persen.

Kebijakan moneter menjadi semakin krusial karena kenaikan harga energi berpotensi menambah tekanan inflasi. Harga minyak mentah Brent pada Senin ditutup naik 1 persen menjadi US$105,68 per barel setelah meningkatnya kekhawatiran mengenai pasokan energi akibat serangan baru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Timur Tengah.

Di pasar saham, tekanan paling besar terlihat pada perusahaan yang berkaitan dengan AI. Sejumlah pimpinan Anthropic, OpenAI, dan xAI sebelumnya menyuarakan kekhawatiran mengenai aspek keselamatan serta menyerukan perlambatan pengembangan teknologi tersebut.

Sentimen itu ikut menyeret saham perusahaan semikonduktor yang selama ini menjadi bagian penting dari reli sektor AI. Saham Nvidia turun 3,4 persen, Micron Technology merosot lebih dari 5 persen, sedangkan Broadcom dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing anjlok lebih dari 4 persen.

Indeks saham semikonduktor Philadelphia Semiconductor Index (PHLX) bahkan jatuh 5,9 persen. Meski demikian, indeks tersebut masih mencatat kenaikan sekitar 57 persen sepanjang 2026 setelah sebelumnya mendapat dorongan kuat dari investasi terkait AI.

Pelemahan juga meluas di pasar saham secara keseluruhan. Delapan dari 11 sektor S&P 500 berakhir turun, dengan sektor teknologi informasi menjadi penekan terbesar setelah terkoreksi 1,68 persen. Sektor industri menyusul dengan penurunan 1,44 persen.

Jake Dollarhide, Chief Executive Officer (CEO) Longbow Asset Management, menilai kenaikan imbal hasil Treasury dapat meningkatkan tekanan terhadap arah kebijakan The Fed.

“Imbal hasil 10 tahun yang menembus 5 persen merupakan hal yang besar dan menunjukkan banyak hal, serta dapat mendorong The Fed untuk melakukan lebih dari sekadar satu kali kenaikan suku bunga,” kata Dollarhide.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 15,3 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 14,8 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir. Kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi, potensi pengetatan kebijakan moneter, harga minyak yang meningkat, serta tekanan pada saham AI membuat investor menghadapi risiko volatilitas yang lebih besar dalam perdagangan berikutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *