Harga Minyak Naik, Risiko Selat Hormuz Jadi Ancaman Utama

0
a_6a4efbb1a89d5

JAKARTA – Selat Hormuz menjadi salah satu penentu utama arah harga minyak mentah dunia hingga akhir 2026 karena risiko keamanan pelayaran masih membayangi distribusi energi. Kondisi tersebut mendorong harga minyak menguat pada perdagangan Kamis (08/10/2026), meski pemulihan sebagian ekspor negara Teluk dan pelepasan cadangan strategis membatasi kenaikannya.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (08/10/2026) pukul 15.20 WIB, minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 naik 3,8 persen menjadi US$104,03 per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 menguat 3,5 persen menjadi US$91,37 per barel.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan mengatakan pasar minyak masih menghadapi ketidakpastian tinggi akibat perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

“Minyak masih berada dalam fase volatilitas tinggi. Harga minyak ditopang risiko gangguan pasokan dan distribusi melalui Selat Hormuz, tetapi kenaikannya tertahan oleh pemulihan sebagian ekspor negara Teluk serta pelepasan cadangan strategis,” kata Brahmantya kepada Kontan, sebagaimana diberitakan Kontan, Kamis, (08/10/2026).

Menurut Brahmantya, perhatian pelaku pasar tidak hanya tertuju pada jumlah minyak yang tersedia, tetapi juga pada kemampuan produsen mengirimkan komoditas tersebut melalui jalur perdagangan secara aman. Sebagian distribusi melalui jalur alternatif memang mulai pulih, tetapi serangan terhadap kapal tanker dan risiko keamanan pelayaran masih menjadi persoalan.

“Artinya, pasar bukan hanya memperhitungkan ketersediaan minyak, tetapi juga kemampuan produsen mengirimkan minyak secara aman dan efisien,” ujarnya.

Risiko tersebut turut berpengaruh terhadap biaya logistik dan asuransi pengiriman minyak. Karena itu, setiap perubahan kondisi keamanan di sekitar Selat Hormuz berpotensi memicu respons cepat dari pasar energi global.

Untuk sisa 2026, Brahmantya memperkirakan harga minyak jenis WTI berada pada kisaran US$95-US$100 per barel. Sementara itu, harga Brent diproyeksikan bergerak di rentang US$100-US$110 per barel.

Proyeksi tersebut masih sangat bergantung pada perkembangan konflik dan kelancaran arus distribusi energi. Jika ketegangan kembali meningkat hingga mengganggu pasokan dalam skala lebih besar, harga WTI berpeluang menembus US$100-US$110 per barel. Adapun Brent berpotensi naik ke kisaran US$110-US$120 per barel.

Sebaliknya, meredanya ketegangan geopolitik dan kembali normalnya pasokan dapat mengurangi tekanan harga. Dengan demikian, arah harga minyak menjelang akhir tahun akan sangat dipengaruhi keseimbangan antara risiko gangguan distribusi dan pemulihan pasokan global. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *