Pemerintah Siapkan Modernisasi Mesin untuk Bangkitkan Industri Tekstil
DENPASAR – Pembaruan mesin dan penerapan teknologi produksi terbaru menjadi perhatian pemerintah dalam upaya memperkuat daya saing industri tekstil nasional. Strategi tersebut disiapkan dalam pembahasan rencana pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) tekstil yang masih dikoordinasikan bersama Danantara.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengatakan, koordinasi antara Danantara dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) masih berlangsung. Ia belum dapat mengungkapkan rincian langkah yang akan ditempuh maupun jadwal pembentukan badan usaha tersebut.
“BUMN tekstil lagi kita koordinasikan antara Danantara dengan Kementerian Perindustrian. Langkahnya belum bisa diceritakan sekarang karena prosesnya masih terus berlanjut, tapi kita akan fokus untuk memperkuat industri pertekstilan,” kata Sarmuji saat meninjau Balai Diklat Industri Denpasar, Bali, Sabtu (24/10/2026), sebagaimana diberitakan Antara, Sabtu, (24/10/2026).
Menurut Sarmuji, penguatan industri tekstil tidak cukup dilakukan dengan mengambil alih perusahaan yang sudah berhenti berproduksi. Perbaikan mesin dan peralatan serta kemungkinan penggunaan teknologi terbaru diperlukan agar perusahaan dapat kembali beroperasi dengan kemampuan produksi yang lebih kompetitif.
“Kalau mengambil, misalkan kita ‘take over’ perusahaan untuk diambil alih yang sudah tidak berproduksi, itu tentu harus ada perbaikan equipment-nya, peralatannya kita perbaiki, mungkin juga harus kita injeksi teknologi paling baru supaya hasilnya itu memiliki keunggulan yang besar bagi Indonesia,” ujarnya.
Sarmuji menilai persaingan industri tekstil dunia berlangsung ketat. Negara produsen seperti China memiliki keunggulan antara lain karena didukung mesin produksi yang modern dan relatif baru. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan perlunya pembaruan teknologi apabila pemerintah mengambil langkah pemulihan perusahaan tekstil yang mengalami kesulitan.
Rencana pembentukan BUMN tekstil diharapkan tidak hanya menghidupkan kembali perusahaan yang berhenti berproduksi, tetapi juga membangun kemampuan industri yang lebih kuat melalui peningkatan produktivitas dan kapasitas produksi.
Pemerintah juga mempertimbangkan penggabungan keunggulan sejumlah perusahaan tekstil yang berpotensi diakuisisi. Melalui pendekatan tersebut, kemampuan yang dimiliki masing-masing perusahaan diharapkan dapat dikembangkan menjadi kekuatan yang lebih besar.
“Kami berharap beberapa perusahaan yang masing-masing memiliki keunggulan itu bisa disatukan keunggulannya menjadi keunggulan baru yang lebih besar,” katanya.
Meski belum menetapkan jadwal realisasi pembentukan BUMN tekstil, pemerintah berharap proses koordinasi dapat berjalan lebih cepat. Sarmuji menyebut Danantara telah menunjukkan komitmen untuk mengucurkan dana dalam jumlah besar guna mendukung rencana penguatan sektor tersebut.
Langkah modernisasi dan konsolidasi perusahaan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, memperkuat posisi industri tekstil Indonesia di pasar global, serta mempertahankan peran sektor ini sebagai industri padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja. []
Redaksi01
