BNI Raup Laba Rp 16,11 Triliun, Margin Bunga Tertekan
JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memperbaiki kualitas aset di tengah ekspansi kredit yang tumbuh 22,2% secara tahunan pada kuartal III-2026. Hingga September 2026, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto BNI turun menjadi 1,9% dari 2% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan tersebut berjalan seiring pertumbuhan laba bersih, penguatan pendanaan murah, dan peningkatan aktivitas layanan digital.
Sebagaimana diberitakan Kontan, Selasa, (27/10/2026), BNI membukukan laba bersih Rp 16,11 triliun selama Januari–September 2026, tumbuh 6,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp 27,5 triliun, meningkat 11,6% secara tahunan dan menjadi pencapaian tertinggi bank tersebut untuk periode kuartal III.
Direktur Utama (Dirut) BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, pertumbuhan bisnis tetap diarahkan pada penguatan fundamental dan pengelolaan risiko secara disiplin.
“Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Putrama dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).
Dari sisi penyaluran pembiayaan, kredit BNI mencapai Rp 992,5 triliun pada akhir September 2026, naik 22,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspansi tersebut dilakukan secara selektif dengan memperhatikan kelayakan debitur dan potensi risiko kredit.
Perbaikan kualitas aset juga terlihat dari rasio loan at risk (LaR) yang turun menjadi 7,8% dari sebelumnya 10,4%. Sementara itu, rasio pencadangan terhadap kredit tercatat 3,8%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri sebesar 3,5%. Adapun rasio non-performing loan coverage mencapai 193,3%, mencerminkan besarnya cadangan yang disiapkan untuk mengantisipasi potensi kerugian akibat kredit bermasalah.
Direktur Keuangan dan Strategi (Finance & Strategy) BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menyatakan, ekspansi kredit dilakukan dengan menerapkan standar analisis kelayakan yang disiplin. Strategi tersebut turut mendorong pangsa pasar kredit BNI meningkat 113 basis poin menjadi 10,6% secara tahunan.
Di sisi pendanaan, dana murah atau current account savings account (CASA) mencapai Rp 733,7 triliun, tumbuh 19,6% dibandingkan September 2025. Penghimpunan giro meningkat 25,9% secara tahunan, melampaui pertumbuhan industri sebesar 9,8% berdasarkan data Agustus 2026.
Pangsa pasar giro BNI naik 120 basis poin menjadi 13,2%, sedangkan pangsa pasar tabungan meningkat 10 basis poin menjadi 9,2%. Pertumbuhan dana murah tersebut turut menekan biaya dana atau cost of fund (CoF) dari 2,83% menjadi 2,77%.
Meski demikian, BNI masih menghadapi tekanan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM), yang turun 30 basis poin secara tahunan menjadi 3,5%. Penurunan ini terutama dipengaruhi imbal hasil kredit atau loan yield yang menyusut dari 7,3% menjadi 6,9%.
Di tengah tekanan tersebut, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) meningkat 13,6% menjadi Rp 33,2 triliun. Pendapatan berbasis komisi atau fee-based income juga tumbuh 8,3% menjadi Rp 13,9 triliun selama sembilan bulan pertama 2026.
Dari aspek likuiditas, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) mencapai 87,9%, naik dari 86,9% pada tahun sebelumnya. Rasio liquidity coverage ratio (LCR) tercatat 143,4%, sedangkan net stable funding ratio (NSFR) mencapai 128,4%.
Adapun rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada pada level 19,2%, turun dari 21,1% setahun sebelumnya. Perubahan rasio tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati dalam menilai kemampuan permodalan bank untuk menopang ekspansi bisnis.
Selain memperkuat pendanaan dan kualitas kredit, BNI mengandalkan transformasi digital untuk memperluas aktivitas transaksi nasabah. Hingga September 2026, aplikasi wondr by BNI memiliki 16,6 juta pengguna, tumbuh 58% secara tahunan, dengan nilai transaksi mencapai Rp 1.774 triliun atau meningkat 25%.
Sementara itu, layanan digital perbankan korporasi BNIdirect membukukan nilai transaksi Rp 9.324 triliun, naik 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah penggunanya mencapai 293.000, meningkat 19% secara tahunan.
BNI juga mencatat pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan laba bersih. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kinerja operasional belum sepenuhnya tercermin dalam pertumbuhan laba akhir, terutama ketika bank menghadapi tekanan margin dan kebutuhan pencadangan.
Memasuki kuartal IV-2026, BNI berencana melanjutkan penguatan pendanaan berbasis transaksi, menyalurkan kredit secara selektif, meningkatkan disiplin pengelolaan risiko, serta memperluas transformasi digital dan mengoptimalkan jaringan cabang. Strategi tersebut diharapkan dapat menjaga kualitas aset sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di tengah dinamika industri perbankan. []
Redaksi01
