Peringatan Hari Santri, Pemkab Kutim Dorong Pesantren Bebas Kekerasan

0
6278034463883203798

Pemkab Kutim menekankan penguatan pengawasan, perlindungan hak santri, dan mekanisme pengaduan yang aman guna mewujudkan lingkungan pesantren bebas kekerasan.

ADVERTORIAL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) menekankan pentingnya perlindungan santri dari segala bentuk kekerasan dan penyalahgunaan kewenangan di lingkungan pondok pesantren. Penguatan pengawasan, penyediaan mekanisme pengaduan yang aman, serta pemenuhan hak peserta didik menjadi perhatian pemerintah daerah dalam mewujudkan pendidikan pesantren yang bermartabat.

Komitmen tersebut disampaikan Staf Ahli Bupati Kutim Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Yuriansyah T, ketika membacakan sambutan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-11 di Lapangan Umum Desa Makmur Jaya, Kecamatan Kombeng, Kamis (22/10/2026) pagi.

Dalam sambutannya, Pemkab Kutim menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan pesantren tidak cukup diukur dari kemampuan akademik maupun penguasaan ilmu agama. Keselamatan, kenyamanan, dan penghormatan terhadap martabat santri harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.

“Kita ingin pesantren menjadi tempat yang tidak hanya melahirkan generasi cerdas dan religius, tetapi juga ruang pendidikan yang aman, penuh kasih sayang, menjunjung martabat manusia, dan bebas dari segala bentuk kekerasan,” tegasnya.

Untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, pemerintah daerah mendorong keterlibatan pengelola pesantren, tenaga pendidik, pengasuh, orang tua, dan instansi terkait dalam memperkuat sistem pencegahan kekerasan.

Langkah tersebut meliputi penerapan aturan yang jelas, pengawasan yang proporsional, edukasi mengenai perilaku aman, serta penyediaan saluran pengaduan yang mudah diakses dengan tetap menjamin kerahasiaan identitas pelapor.

Koordinasi antara pemerintah daerah dan pengelola pesantren juga dinilai penting agar pembinaan terhadap santri dapat berlangsung secara berkelanjutan. Keterlibatan keluarga dan masyarakat diharapkan memperkuat pengawasan sekaligus mendukung perkembangan peserta didik.

Selain perlindungan terhadap santri, Pemkab Kutim menyoroti tantangan pendidikan pesantren di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Santri didorong meningkatkan kemampuan memilah informasi, memeriksa kebenaran berita, menjaga privasi, serta menghindari perundungan dan penyebaran ujaran kebencian.

Pemanfaatan teknologi diharapkan tidak hanya membantu proses pembelajaran, tetapi juga memperluas akses pengetahuan dan menjadi sarana penyampaian dakwah yang menyejukkan.

Dalam konteks pembangunan daerah, pendidikan pesantren dipandang memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi muda yang mampu berkontribusi pada berbagai sektor. Kekayaan sumber daya alam Kutim, termasuk potensi pertanian dan perkebunan, membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang berpengetahuan, terampil, dan berintegritas.

Karena itu, santri diharapkan mampu mengembangkan kompetensi di luar bidang keagamaan tanpa meninggalkan nilai-nilai moral yang diperoleh selama menempuh pendidikan.

“Santri tidak boleh membatasi pengabdian hanya di lingkungan pesantren. Mereka bisa menjadi ulama, guru, pengusaha, petani modern, ilmuwan, maupun pemimpin bangsa dengan tetap menjunjung integritas, kedisiplinan, tanggung jawab, dan akhlak mulia,” demikian pesan Bupati yang dibacakan Yuriansyah.

Peringatan HSN yang mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mengingatkan kembali peran kalangan pesantren dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Yuriansyah mengangkat kembali sejarah Resolusi Jihad yang dicetuskan Kiai Haji (KH) Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Peristiwa tersebut menjadi pengingat mengenai hubungan erat antara semangat keagamaan, perjuangan kebangsaan, dan tanggung jawab menjaga keutuhan negara.

Semangat perjuangan itu diharapkan dapat diteruskan oleh santri masa kini melalui penguasaan ilmu pengetahuan, penguatan karakter, pemanfaatan teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Rangkaian peringatan HSN di Kecamatan Kombeng diisi dengan pembacaan Al-Qur’an secara massal, pawai santri atau napak tilas, serta upacara peringatan Hari Santri Nasional.

Melalui kegiatan tersebut, Pemkab Kutim berharap pesantren semakin berkembang sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya membentuk generasi religius dan berwawasan luas, tetapi juga memberikan perlindungan terhadap hak serta keselamatan santri. Dengan demikian, lulusan pesantren diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah dan kemajuan bangsa. []

Penulis: Suryono | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *