Penerbitan Obligasi dan Sukuk ESG Anjlok 52,5 Persen pada 2026
JAKARTA – Penerbitan obligasi dan sukuk berbasis environmental, social, and governance (ESG) di pasar modal Indonesia mengalami perlambatan pada 2026. Hingga tahun ini, nilai penerbitannya tercatat Rp16,9 triliun, turun sekitar 52,5 persen dibandingkan capaian sepanjang 2025 yang mencapai Rp35,6 triliun.
Penurunan tersebut menjadi tantangan bagi Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam memperluas pembiayaan berkelanjutan. Meski demikian, secara akumulatif, penerbitan instrumen utang berbasis ESG sejak 2018 hingga 2026 telah mencapai Rp89,46 triliun dengan melibatkan 16 penerbit.
Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi mengatakan, instrumen tersebut mencakup berbagai jenis surat utang, antara lain Social Bond, Sustainable Sukuk, Sustainable Linked Bond (SLB), Sustainable Bond, dan Green Bond, serta sukuk sosial berbasis musyarakah dan mudharabah.
“Berbagai isiatif ini membantu investor mengenali pilihan investasi yang sesuai dengan tujuan yang pertimbangan ESG atau pertimbangan keberlanjutan. Pasar modal Indonesia juga telah menyalurkan pembiayaan berkelanjutan dalam skala yang berarti,” ujar Iding dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 di aula utama BEI, Jumat (06/11/2026), sebagaimana diberitakan Kontan, Jumat (06/11/2026).
Di tengah penurunan penerbitan tersebut, perkembangan ekosistem investasi berkelanjutan masih terlihat dari meningkatnya keterlibatan perusahaan tercatat. Iding menyebut sekitar 85 persen perusahaan tercatat telah menyampaikan informasi keberlanjutan pada 2025.
Selain itu, lebih dari 61 perusahaan yang masuk dalam indeks IDX80 disebut telah memiliki komitmen terhadap penerapan prinsip ESG. Komitmen tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap aspek keberlanjutan dalam kegiatan usaha.
BEI juga mengembangkan pilihan investasi berbasis ESG melalui penyediaan sejumlah indeks saham yang dapat menjadi acuan bagi penerbitan produk investasi. Upaya tersebut diharapkan memperluas pilihan investor sekaligus mendorong pertumbuhan instrumen keuangan berkelanjutan.
Hingga September 2026, dana kelolaan produk investasi berbasis ESG atau ESG fund tercatat sekitar Rp5,85 triliun. Angka tersebut mencakup produk berbasis indeks nonpasif, index fund, dan exchange-traded fund (ETF).
Iding menilai potensi pengembangan pasar investasi berkelanjutan di Indonesia masih terbuka lebar. Karena itu, BEI perlu memperluas jumlah penerbit, meningkatkan partisipasi investor, serta mendorong aktivitas perdagangan instrumen ESG di pasar sekunder.
“Namun, ruang pengembangannya masih luas masih luas.Kita perlu mengajak lagi banyak penerbit, memperluas partisipasi investor dan mendorong aktivitas perdagangan di pasar sekunder,” pungkas Iding. []
Redaksi01
