Angkutan CPO Melejit 38 Persen, KAI Sumut Perkuat Distribusi Sawit

MEDAN – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara (Divre I Sumut) mencatat lonjakan signifikan angkutan komoditas Crude Palm Oil (CPO) sepanjang April 2026, yang mencapai 9.855 ton atau meningkat 38 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Capaian ini mempertegas peran kereta api sebagai tulang punggung distribusi logistik sawit di wilayah tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Manager Hubungan Masyarakat (Humas) PT KAI (Persero) Divre I Sumut, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan peningkatan volume angkutan ini mencerminkan tingginya kebutuhan distribusi industri sawit sekaligus kepercayaan terhadap moda transportasi rel.

“Jumlah tersebut naik 38 persen dibandingkan Maret 2026 yang tercatat sebanyak 7.125 ton,” kata Anwar Yuli Prastyo di Medan, sebagaimana dilansir Sawitsetara, Rabu (06/05/2026).

Menurutnya, kereta api memiliki posisi strategis dalam mendukung rantai pasok sawit, terutama dalam menghubungkan pabrik pengolahan dengan pelabuhan ekspor maupun kawasan industri hilir.

“Sumatera Utara merupakan salah satu produsen kelapa sawit terbesar di Indonesia dengan sejarah panjang sejak sebelum kemerdekaan. Perlu diketahui bahwa angkutan CPO dengan moda transportasi kereta api saat ini hanya tersedia di wilayah Sumatera Utara,” kata Anwar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas perkebunan kelapa sawit di Sumut mencapai sekitar 1,36 juta hektare pada 2025. Wilayah ini menjadi salah satu pusat produksi utama setelah Riau, dengan konsentrasi perkebunan di Langkat, Deli Serdang, dan Labuhan Batu Raya.

Distribusi CPO melalui kereta api dinilai mampu mempercepat pengiriman dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) menuju pelabuhan utama seperti Belawan dan Kuala Tanjung, serta ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei yang menjadi pusat hilirisasi berbasis sawit.

“Melihat hal ini maka kehadiran kereta api mempermudah distribusi CPO dari PKS menuju pelabuhan seperti Belawan dan Kuala Tanjung untuk memenuhi permintaan pasar di luar Sumatera Utara. Selain itu, angkutan CPO juga dikirim menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, yang menjadi pusat industri hilir berbasis sawit,” ungkap Anwar.

Selain mendukung distribusi, pemanfaatan CPO juga diperluas sebagai bahan baku energi alternatif melalui program biodiesel. PT KAI Divre I Sumut bahkan telah mengimplementasikan penggunaan bahan bakar B40 (40 persen berbasis sawit) pada seluruh lokomotif dan mesin pembangkitnya.

β€œSaat ini bahkan sedang dilakukan uji coba penggunaan bahan bakar B50 untuk lokomotif. Langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta mendukung program transisi energi nasional,” jelas Anwar.

Program uji coba tersebut merupakan bagian dari kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam mendorong implementasi B50 secara nasional. Uji coba dilakukan secara bertahap di berbagai sektor, termasuk perkeretaapian.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa pengujian B50 telah berlangsung sejak akhir 2025.

“Jadi sejak 9 Desember (2025) kita sudah mulai seluruh rangkaian dari uji pelaksanaan di otomotif, di pertambangan, di alat pertanian, uji di perkapalan, uji di genset dan terakhir ini uji di perkeretapian, karena kita harus menunggu lebaran selesai,” ujar Eniya.

Ia menambahkan, uji coba pada sektor perkeretaapian dilakukan melalui dua tahap pengujian, salah satunya pengujian genset kereta selama 2.400 jam operasional.

“Jadi sejak 9 Desember (2025) kita sudah mulai seluruh rangkaian dari uji pelaksanaan di otomotif, di pertambangan, di alat pertanian, uji di perkapalan, uji di genset dan terakhir ini uji di perkeretapian, karena kita harus menunggu lebaran selesai,” ujar Eniya.

Dengan tren peningkatan angkutan dan inovasi energi tersebut, KAI menargetkan efisiensi distribusi sekaligus kontribusi terhadap pengurangan emisi dapat terus ditingkatkan, seiring dengan berkembangnya industri sawit nasional dan kebutuhan logistik berkelanjutan. []

Penulis: Ibnu | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *