KAI Fokus Tangani 1.810 Perlintasan Berisiko Tinggi, Target Tekan Kecelakaan

JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) memprioritaskan penanganan 1.810 perlintasan sebidang berisiko tinggi sebagai langkah mendesak menekan angka kecelakaan, menyusul temuan ratusan korban dalam beberapa tahun terakhir. Upaya ini menjadi fokus utama dalam Kick Off Meeting yang digelar di Jakarta Railways Center pada Selasa (05/05/2026) dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Langkah percepatan tersebut dilakukan melalui kolaborasi lintas lembaga, yakni Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA), Badan Pengelola Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), Danantara, serta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), guna memastikan penanganan berjalan terarah dan berbasis data.

Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi PT KAI (Persero), I Gede Darmayusa, menegaskan bahwa pendekatan berbasis data menjadi kunci dalam menentukan prioritas penanganan.

“Saat ini terdapat 3.674 perlintasan sebidang. Dari jumlah tersebut, 1.810 titik menjadi fokus penanganan karena memiliki tingkat risiko yang perlu segera ditangani. Sebanyak 172 perlintasan diarahkan untuk penutupan, sementara 1.638 lainnya ditingkatkan aspek keselamatannya,” ujar I Gede Darmayusa.

Ia mengungkapkan, data kecelakaan menunjukkan urgensi langkah cepat. Dalam periode 2023 hingga 2026, tercatat 948 korban akibat kecelakaan di perlintasan sebidang, dengan sekitar 80 persen kejadian terjadi pada perlintasan yang belum terjaga.

“Kita melihat pola yang sama dari waktu ke waktu. Karena itu, penanganan harus fokus pada titik-titik yang berisiko tinggi, sehingga dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” lanjutnya, sebagaimana dilansir Antara, Rabu (06/05/2026).

Sejumlah langkah konkret telah dijalankan, mulai dari pendataan dan pemetaan kondisi perlintasan, koordinasi dengan regulator dan pemerintah daerah, hingga penutupan titik-titik dengan risiko tinggi. Tahapan ini dilanjutkan dengan kajian teknis serta penyusunan strategi peningkatan keselamatan secara bertahap.

Pada tahap implementasi, peningkatan difokuskan pada penyediaan fasilitas keselamatan dasar, seperti petugas penjaga, gardu, alat komunikasi, sirine, lampu peringatan, kamera pengawas (Closed Circuit Television atau CCTV), hingga panic button yang terhubung langsung dengan masinis untuk mempercepat respons darurat.

Selain itu, KAI juga mengembangkan sistem Automatic Train Protection (ATP) yang mampu memberikan peringatan otomatis hingga intervensi pengereman apabila terdeteksi potensi bahaya, guna meminimalkan risiko yang dipengaruhi faktor manusia.

Menurut I Gede Darmayusa, seluruh upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan keselamatan publik secara langsung.

“Dengan penanganan yang lebih terarah, risiko kecelakaan dapat ditekan, perjalanan kereta api menjadi lebih andal, dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar perlintasan merasa lebih aman. Ini yang ingin kita capai bersama,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi kolaborasi antara KAI, Kemenhub, pemerintah daerah, Danantara, dan KNKT dalam setiap tahapan pelaksanaan.

“Melalui penanganan 1.810 perlintasan prioritas, penguatan perangkat keselamatan, serta pengembangan sistem seperti ATP, kita bergerak menuju sistem perkeretaapian yang lebih aman dan adaptif. Harapannya sederhana, perjalanan kereta api berjalan dengan baik dan masyarakat yang melintas di perlintasan bisa merasa lebih tenang,” tutup I Gede Darmayusa. []

Penulis: PR Wire | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *