Atap Bocor Parah, Pemkot Mataram Gelontorkan Rp870 Juta Selamatkan Pasar Cakranegara

MATARAM – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram mulai memprioritaskan pemulihan aktivitas ekonomi di Pasar Tradisional Cakranegara dengan mengalokasikan anggaran Rp870 juta untuk perbaikan atap pasar pada 2026, menyusul menurunnya jumlah pedagang akibat kondisi bangunan yang rusak dan mengganggu aktivitas jual beli.

Langkah tersebut ditempuh melalui Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram sebagai upaya menarik kembali pedagang yang sebelumnya meninggalkan lokasi akibat kebocoran parah pada atap pasar. Perbaikan ditargetkan menjadi solusi awal untuk mengembalikan kenyamanan sekaligus memulihkan pendapatan retribusi daerah.

Kepala Dinas Perdagangan (Kadisdag) Kota Mataram Irwan Harimansyah mengatakan keterbatasan anggaran membuat pemerintah hanya bisa fokus pada satu pasar pada tahun ini.
“Satu pasar saja yang kita perbaiki karena terbatas anggaran. Itu perencanaan sampai pelaksanaannya Rp1 miliar. Tapi kalau fisiknya Rp870 juta,” kata Irwan, sebagaimana dilansir Inside Lombok, Senin, (20/04/2026).

Ia menjelaskan, program perbaikan tersebut merupakan kelanjutan dari pengerjaan sebelumnya pada 2025 yang belum mampu menuntaskan seluruh kerusakan. Pada tahap awal, pemerintah telah mengalokasikan sekitar Rp400 juta, namun kondisi atap yang semakin memburuk memerlukan penanganan lanjutan.

Menurut Irwan, kerusakan atap menjadi faktor utama menurunnya aktivitas perdagangan. Saat hujan, air masuk ke area pasar hingga menggenangi lapak pedagang, sehingga menurunkan kenyamanan pembeli dan penjual.
“Ini kan luas. Itu hanya dilakukan atapnya saja biar lebih bagus. Kita cat juga. Ini sangat penting. Karena bukan bocor lagi tapi sudah hujan disana. Makanya pedagang kami banyak yang pindah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, perbaikan dilakukan secara bertahap dengan fokus utama pada atap, sementara struktur bangunan secara umum masih dinilai layak. Penataan tambahan juga akan dilakukan untuk mendukung kenyamanan pasar.
“Kalau bangunannya masih bagus. Tapi kalau ada yang menghalangi kami tinggal tertibkan saja. Ini juga sedang kami tata,” katanya.

Data Disdag Kota Mataram mencatat, dari sekitar 400 pedagang yang sebelumnya beraktivitas di pasar tersebut, sekitar 50 persen telah berpindah ke lokasi lain seperti Karang Seraye dan Lelede akibat kondisi pasar yang tidak layak.

Kondisi ini turut berdampak pada penurunan penerimaan retribusi daerah dari sektor pasar tradisional.
“Ya, pasti ini berdampak pada pencapaian target retribusi kita di pasar ini. Karena banyak yang pindah,” pungkas Irwan.

Pemkot Mataram berharap perbaikan ini dapat mengembalikan kepercayaan pedagang dan masyarakat, sekaligus menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di pasar tradisional sebagai pusat perdagangan rakyat. []

Penulis: Buniamin Azmah | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *