Bank Jago Perkuat Fundamental, DPK dan Kredit Melonjak di Awal 2026
JAKARTA – PT Bank Jago Tbk mencatatkan penguatan fundamental bisnis pada kuartal I 2026 dengan lonjakan dana pihak ketiga (DPK) dan kredit, sekaligus menjaga kualitas aset tetap rendah di tengah dinamika ekonomi. Pencapaian ini menegaskan strategi ekspansi berbasis kolaborasi digital yang mulai memperlihatkan dampak signifikan terhadap pertumbuhan perusahaan.
Berdasarkan data kinerja hingga Maret 2026, jumlah nasabah Bank Jago meningkat menjadi 19,4 juta, bertambah lebih dari 3 juta dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 15,2 juta merupakan nasabah funding pengguna Aplikasi Jago, menunjukkan peningkatan adopsi layanan digital sebagai pendorong utama pertumbuhan.
Pertumbuhan basis nasabah tersebut turut mendongkrak penghimpunan DPK yang naik 23 persen secara tahunan menjadi Rp26,4 triliun. Komposisi DPK didominasi current account and savings account (CASA) sebesar 53 persen atau Rp13,9 triliun, sementara sisanya berasal dari deposito sebesar Rp12,5 triliun.
“Peningkatan DPK ini menunjukkan nasabah semakin banyak dan percaya untuk memanfaatkan produk dan layanan Bank Jago sebagai bagian dari pengelolaan keuangan mereka. Kini Aplikasi Jago bukan sekadar tempat untuk menabung dan bertransaksi, tetapi sudah menjadi tempat untuk menumbuhkan keuangan nasabah secara lebih menyeluruh,” kata Direktur Utama (Dirut) Bank Jago, Arief Harris, sebagaimana dilansir Pasardana, Jumat (24/04/2026).
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit Bank Jago juga tumbuh 24 persen secara tahunan menjadi Rp25,2 triliun. Peningkatan ini ditopang oleh strategi kolaborasi dengan berbagai mitra (partner), termasuk ekosistem digital, perusahaan pembiayaan, serta lembaga keuangan lainnya.
Meski ekspansi kredit berlangsung agresif, Bank Jago tetap menjaga kualitas pinjaman. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross yang berada di level 0,8 persen, lebih rendah dibanding rata-rata industri perbankan nasional.
Kinerja positif tersebut turut mendorong total aset perseroan menjadi Rp39,5 triliun atau tumbuh 22 persen secara tahunan. Sementara itu, laba bersih setelah pajak atau net profit after tax (NPAT) tercatat Rp86 miliar, meningkat 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp60 miliar.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada di level 29,9 persen, memberikan ruang ekspansi yang cukup luas. Adapun rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) tercatat sebesar 95 persen.
“Pencapaian ini menegaskan komitmen kami sebagai bank berbasis teknologi yang terus mengedepankan inovasi dan kolaborasi sekaligus fokus pada pengelolaan fundamental kinerja dan manajemen risiko yang kuat. Di tengah dinamika ekonomi global dan dalam negeri, kami tetap berhati-hati untuk menjaga kinerja perusahaan tetap sehat sembari mencari peluang untuk tumbuh berkelanjutan,” tutur Arief. []
Penulis: Corri | Penyunting: Redaksi01
