Bank of Canada Tahan Bunga 2,25%, Inflasi Jadi Ancaman

OTTAWA – Bank of Canada memilih mempertahankan suku bunga acuan pada level 2,25% setelah mempertimbangkan dua tekanan ekonomi yang berlawanan, yakni meningkatnya risiko inflasi dan ketidakpastian pertumbuhan akibat kebijakan tarif baru Amerika Serikat (AS). Keputusan tersebut diumumkan pada Rabu (02/09/2026) dan membuat suku bunga acuan Kanada bertahan pada level tersebut selama 11 bulan.

Langkah Bank of Canada menunjukkan sikap hati-hati bank sentral dalam merespons perubahan kondisi ekonomi akibat meningkatnya ketegangan perdagangan dengan AS. Bank sentral tidak langsung mengubah biaya pinjaman karena perekonomian Kanada masih menunjukkan ketahanan, tetapi pada saat yang sama mulai menghadapi risiko kenaikan harga akibat tarif perdagangan.

Salah satu penopang keputusan tersebut adalah kinerja ekonomi Kanada yang masih relatif kuat. Produk domestik bruto (PDB) Kanada tumbuh 3,3% secara tahunan pada kuartal II 2026. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi Bank of Canada untuk menunggu perkembangan dampak kebijakan tarif sebelum menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.

Namun, ketahanan ekonomi tersebut menghadapi tantangan dari kebijakan perdagangan AS. Presiden AS Donald Trump sebelumnya memberlakukan tarif sebesar 50% terhadap sejumlah produk impor dari Kanada. Kebijakan tersebut mulai berlaku setelah data PDB kuartal II 2026 diumumkan dan diperkirakan dapat memengaruhi kepercayaan pelaku usaha serta konsumen.

Dampak kebijakan tarif tidak hanya berpotensi menekan aktivitas ekonomi, tetapi juga dapat meningkatkan biaya produksi dan harga barang di Kanada. Kondisi itu menjadi perhatian karena Kanada juga menyiapkan tarif balasan terhadap sejumlah produk AS yang dijadwalkan mulai berlaku pada pekan depan.

“Tarif baru AS dan tarif balasan Kanada juga akan meningkatkan biaya bagi sejumlah perusahaan dan dapat berdampak pada harga konsumen seiring waktu,” kata Bank of Canada dalam pernyataannya, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (02/09/2026).

Bank sentral Kanada menilai perkembangan tersebut telah meningkatkan risiko terhadap stabilitas harga. Pada saat yang sama, dampak tarif terhadap aktivitas ekonomi membuat prospek pertumbuhan menjadi lebih sulit diprediksi.

“Risiko kenaikan inflasi telah meningkat, sementara tarif baru membuat prospek pertumbuhan semakin tidak pasti,” ujar bank sentral tersebut.

Situasi itu menempatkan Bank of Canada dalam posisi yang cukup sulit. Jika suku bunga dinaikkan untuk meredam tekanan inflasi, biaya pinjaman yang lebih tinggi berpotensi menambah beban rumah tangga dan dunia usaha ketika aktivitas ekonomi mulai tertekan tarif. Sebaliknya, apabila kebijakan moneter dilonggarkan terlalu cepat, tekanan harga akibat kenaikan biaya impor berisiko semakin besar.

Tekanan tersebut juga berpotensi merembet ke pasar tenaga kerja. Tarif perdagangan yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya operasional perusahaan dan mengurangi minat ekspansi, sementara pelemahan permintaan dapat memengaruhi perekrutan tenaga kerja. Karena itu, perkembangan inflasi, pertumbuhan ekonomi, aktivitas dunia usaha, dan pasar tenaga kerja menjadi faktor penting yang akan dipantau Bank of Canada.

Di sisi lain, penerapan tarif balasan Kanada terhadap produk AS akan menjadi perkembangan penting dalam menentukan arah perekonomian berikutnya. Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan biaya barang yang masuk ke pasar domestik sehingga menambah tekanan inflasi, meskipun ditujukan sebagai respons terhadap kebijakan perdagangan AS.

Dengan suku bunga yang masih bertahan di 2,25%, Bank of Canada tampaknya memilih strategi wait and see untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai dampak perang dagang terhadap perekonomian. Perkembangan inflasi dan pertumbuhan dalam beberapa bulan mendatang akan menjadi pertimbangan penting sebelum bank sentral menentukan apakah perlu mengubah tingkat suku bunga. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *