BI Dorong UMKM Desa Ketapanrame, Kopi Lokal Tembus Pasar Jepang

MOJOKERTO – Penguatan ekosistem wisata berbasis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur (Jatim), mulai mendorong kebangkitan ekonomi desa setelah pendampingan Bank Indonesia (BI) memperluas pasar kopi lokal hingga menembus pembeli mancanegara.

Desa wisata di lereng Gunung Welirang dan Penanggungan itu kini berkembang tidak hanya sebagai destinasi alam, tetapi juga pusat pengembangan produk unggulan berbasis pertanian, edukasi, budaya, dan UMKM. Pendampingan BI Surabaya sejak 2024 dinilai memperkuat rantai usaha dari hulu hingga hilir, terutama pada komoditas kopi yang menjadi sektor andalan desa.

Kepala Desa (Kades) Ketapanrame, Zainul Arifin, mengatakan dukungan BI tidak hanya berfokus pada promosi wisata, tetapi juga menyentuh penguatan produksi dan pemasaran hasil usaha masyarakat.

“Bank Indonesia membantu kami secara menyeluruh, bukan hanya promosi. Mulai dari proses budidaya hingga pemasaran produk kopi terus didampingi,” ujar Zainul.

Kopi Ketapanrame menjadi salah satu komoditas utama dengan luas perkebunan mencapai 69 hektare yang dikelola sekitar 215 petani. Produk tersebut kini mulai diminati pasar luar negeri setelah kelompok tani dipertemukan dengan pembeli dari sejumlah negara.

“Kopi kami sekarang mulai dikenal lebih luas. Bahkan pernah ada permintaan satu kontainer kopi dari Jepang,” katanya.

Selain memperluas akses pasar, BI juga mendukung peningkatan kapasitas produksi melalui penyediaan mesin roasting, mesin sortir kopi, grinder, rumah produksi, hingga generator set (genset) berkapasitas besar. Dukungan serupa diberikan pada sektor wisata, termasuk pembangunan gazebo dan perangkat kasir digital.

Kades Ketapanrame mengungkapkan desa wisata sempat mengalami penurunan laba dari Rp4,4 miliar pada 2023 menjadi Rp2,7 miliar pada 2024. Namun, setelah program pendampingan berjalan, tren kunjungan wisatawan dan pendapatan desa mulai kembali meningkat.

Saat ini, jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Ketapanrame mencapai sekitar 70 ribu orang per bulan. Kondisi tersebut berdampak pada pertumbuhan usaha warga, termasuk pengembangan produk turunan kopi seperti cookies kopi dan berbagai olahan lainnya.

Puluhan jurnalis melihat langsung perkembangan desa wisata tersebut dalam agenda Capacity Building yang digelar Kantor Perwakilan BI Balikpapan, sebagaimana diberitakan Kpfm Balikpapan, Jumat (22/05/2026). Kegiatan itu menyoroti model pemberdayaan desa berbasis wisata dan UMKM yang dinilai mampu meningkatkan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

“Pendampingan seperti ini membuat UMKM desa semakin percaya diri berkembang dan mampu bersaing lebih luas,” tutupnya.

Ke depan, Pemdes Ketapanrame optimistis inovasi produk, penguatan sektor wisata, dan dukungan UMKM dapat terus meningkatkan pendapatan desa sekaligus memperluas daya saing ekonomi masyarakat. []

Penulis: Fredy Janu | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *