BRIN Buka Jalan Hasil Riset Energi Masuk Industri Lewat Energy Week 2026

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong hasil penelitian di bidang energi agar tidak berhenti sebagai prototipe atau bahan diskusi, tetapi dapat dikembangkan menjadi solusi yang digunakan industri. Upaya tersebut menjadi salah satu fokus Energy Week 2026 yang digelar pada 22–24 September 2026 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta.

Kegiatan yang mengusung tema “Accelerating the Energy Transition: From Vision to Action” itu dirancang untuk mempertemukan peneliti, pelaku industri, akademisi, dan pemangku kepentingan lain guna membahas peluang penerapan teknologi energi. Agenda tersebut diselenggarakan Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) BRIN bersama Organisasi Riset Energi dan Manufaktur.

Kepala Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) BRIN Tata Sutardi mengatakan forum tersebut diarahkan agar hasil riset dapat memiliki jalur menuju penerapan di sektor industri. “Jadi mulai dari riset dulu sampai kira-kira action-nya apa yang bisa kita tawarkan ke industri,” ujar Tata sebagaimana dilansir Listrik Indonesia, Senin (07/09/2026).

Menurut Tata, kebutuhan terhadap teknologi yang dapat diterapkan menjadi alasan penting bagi BRIN untuk membuka ruang interaksi langsung dengan industri. Dengan pola tersebut, hasil penelitian tidak hanya diperkenalkan melalui pemaparan, tetapi dapat dilanjutkan dengan pembahasan mengenai pengembangan dan pengujian teknologi.

Salah satu bidang yang akan mendapat perhatian ialah waste-to-energy, yakni pemanfaatan sampah sebagai sumber energi. BRIN akan memperkenalkan sejumlah hasil riset yang berkaitan dengan pengolahan sampah menjadi energi, termasuk teknologi berbasis gasifier yang menghasilkan gas untuk menggerakkan turbin dan selanjutnya menghasilkan listrik.

Teknologi tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh apabila mendapatkan mitra industri yang sesuai. Karena itu, keterlibatan pelaku usaha dalam forum tidak hanya diarahkan sebagai peserta, tetapi juga sebagai calon mitra dalam proses pengembangan teknologi.

Tata mengatakan kolaborasi dapat dilakukan mulai dari tahap pengujian hingga pencarian sumber pembiayaan untuk implementasi. “Kita bisa piloting bersama. Kita bisa cari funding bersama untuk implementasi,” kata Tata.

Skema tersebut membuka peluang agar teknologi hasil penelitian dapat melewati tahapan piloting sebelum diterapkan dalam skala yang lebih luas. Bagi industri, mekanisme itu juga dapat menjadi kesempatan untuk menilai kesesuaian teknologi dengan kebutuhan operasional serta potensi pengembangannya.

Selain teknologi pengolahan sampah menjadi energi, Energy Week 2026 akan menghadirkan pembahasan mengenai energi terbarukan lainnya. Salah satunya melalui Indonesia-Spain Renewable Energy Seminar yang mempertemukan pemangku kepentingan dari Indonesia dan Spanyol untuk membahas energi surya serta angin.

Forum Indonesia-Spain Renewable Energy Seminar diharapkan dapat memperluas pertukaran pengetahuan dan membuka peluang kerja sama antara akademisi, peneliti, dan industri dari kedua negara. Pembahasan juga diarahkan pada kemungkinan pengembangan serta transfer teknologi di sektor energi terbarukan.

Rangkaian kegiatan turut diisi PRTKE Expo yang menampilkan hasil penelitian dan inovasi di bidang teknologi konversi energi dan industri. Kehadiran pameran tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat lebih dekat teknologi yang sedang dikembangkan BRIN.

Keterlibatan generasi muda juga menjadi bagian dari agenda melalui Young Energy Scientist Competition (YESC) 2026. Kompetisi tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa dan siswa untuk menyampaikan gagasan serta inovasi yang berkaitan dengan sektor energi.

Agenda lainnya berupa Lomba Konseptual Desain Waste-to-Energy Conversion dan Lomba Cerdas Cermat. Kedua kegiatan tersebut memperluas partisipasi masyarakat, terutama kalangan pelajar dan generasi muda, dalam memahami perkembangan serta tantangan transisi energi.

Tata menilai Indonesia memiliki modal untuk mengembangkan industri energi terbarukan karena didukung potensi sumber daya dan kebutuhan energi yang besar. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan ekosistem industri agar teknologi yang dikembangkan dapat memberikan manfaat secara nyata.

Menurut dia, keberadaan pasar menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong perkembangan industri berbasis teknologi energi. “Kalau market-nya ada, dicoba diberi kesempatan, pasti industrinya akan berpotensi berkembang,” ujar Tata.

Karena itu, Energy Week 2026 tidak hanya diarahkan menjadi forum pertukaran informasi mengenai perkembangan teknologi energi. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan hasil riset dengan kebutuhan pasar, calon pengguna teknologi, serta kemungkinan mitra pengembangan dan pendanaan.

Selama tiga hari pelaksanaan, rangkaian seminar, forum kerja sama, pameran inovasi, hingga kompetisi generasi muda diharapkan memperkuat hubungan antara riset dan industri. Peneliti dapat memperkenalkan hasil pengembangan, industri memperoleh akses terhadap alternatif teknologi, sedangkan akademisi dan generasi muda mendapatkan ruang untuk memperluas wawasan mengenai perkembangan energi.

Keterhubungan antara penelitian, industri, pasar, dan sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam mendorong transisi energi. Melalui kolaborasi tersebut, teknologi yang lahir dari kegiatan riset diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk dikembangkan dari tahap konsep menuju penerapan yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan industri. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *