HIMKI Bidik Teknologi Global untuk Dongkrak Industri Furnitur Indonesia
JAKARTA – Industri furnitur Indonesia mulai memperkuat pijakan menuju persaingan global dengan mengadopsi teknologi manufaktur yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas tanpa menghilangkan keunggulan keterampilan perajin. Strategi tersebut ditempuh Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) melalui penjajakan teknologi, kerja sama industri, serta peluang transfer teknologi dari pasar internasional.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan modernisasi industri diperlukan agar produk furnitur nasional tidak hanya mengandalkan kekuatan desain dan keterampilan perajin, tetapi juga memiliki tingkat presisi dan efisiensi produksi yang mampu bersaing di pasar global.
“Kita harus mulai memahami, menguasai, dan mengadaptasi teknologi sesuai karakter serta kebutuhan industri Indonesia. Teknologi bukan untuk menghilangkan kekuatan craftsmanship, melainkan untuk meningkatkan produktivitas,” ujar dia dalam pernyataannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin (07/09/2026).
Pernyataan tersebut menjadi dasar langkah HIMKI membawa 30 perusahaan anggotanya untuk melihat langsung perkembangan teknologi furnitur di Shanghai, China. Delegasi mengikuti sejumlah pameran internasional, yakni China International Furniture Machinery & Woodworking Machinery Fair (WMF) 2026, China International Furniture Fair (CIFF) Shanghai, serta agenda Furniture China 2026 yang berlangsung pada 5–8 September 2026.
Kunjungan itu diarahkan untuk mencari teknologi yang dapat menjawab kebutuhan industri dalam negeri. Delegasi tidak hanya mengamati produk jadi, tetapi mengeksplorasi perkembangan mesin, material, desain, sistem manufaktur, hingga peluang kerja sama bisnis.
Dalam kegiatan tersebut, HIMKI juga menjajaki kerja sama dengan China National Forestry Machinery Association (CNFMA). Kemitraan itu diharapkan dapat memperluas akses industri furnitur Indonesia terhadap teknologi produksi, produsen mesin, investasi, serta peluang pengembangan usaha.
Bagi HIMKI, akses terhadap teknologi menjadi penting karena Indonesia sebenarnya memiliki modal industri yang cukup kuat. Kekayaan sumber daya alam, beragam material, desain, tradisi kriya, keterampilan perajin, dan kreativitas yang berakar pada budaya menjadi keunggulan yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Namun, keunggulan tersebut perlu ditopang sistem produksi yang lebih modern. Teknologi dinilai dapat membantu industri meningkatkan kecepatan produksi, menjaga konsistensi kualitas, sekaligus memperkuat efisiensi tanpa harus menghilangkan karakter produk yang berasal dari keterampilan manusia.
Perkembangan teknologi yang diamati delegasi mencakup mesin CNC, cutting, drilling, edge banding, sanding, finishing, pengolahan kayu solid, hingga sistem otomasi dan lini produksi digital yang terintegrasi.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa persaingan industri furnitur kini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan desain yang menarik. Rantai produksi yang mencakup perencanaan material, proses pengerjaan, pengendalian kualitas, efisiensi, hingga pemantauan produksi juga menjadi bagian penting dalam menentukan daya saing.
Abdul Sobur menekankan bahwa teknologi seharusnya ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan industri. Dengan pendekatan tersebut, keterampilan perajin tetap menjadi bagian dari identitas produk Indonesia, sementara teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas dan ketepatan produksi.
Selain mengamati teknologi, HIMKI membuka kemungkinan agar hubungan dengan mitra internasional dapat berlanjut pada tahap pengembangan bersama. Peluang tersebut mencakup pengujian teknologi, pengembangan proyek, hingga pencarian pembiayaan untuk implementasi.
“Kita bisa piloting bersama. Kita bisa cari funding bersama untuk implementasi,” kata Tata.
Kerja sama internasional tersebut juga dipersiapkan untuk mendukung penyelenggaraan IndoWood Expo yang akan digelar di Surabaya pada Juni 2027. Agenda itu berpotensi menjadi ruang lanjutan untuk mempertemukan pelaku industri furnitur Indonesia dengan produsen mesin, pemilik teknologi, investor, dan mitra bisnis dari berbagai negara.
Di sisi lain, pemerintah juga menempatkan industri furnitur sebagai salah satu sektor yang memiliki peluang untuk diperkuat dalam rantai manufaktur global. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sebelumnya menargetkan Indonesia menjadi hub produksi manufaktur furnitur global melalui penguatan hilirisasi kayu berkelanjutan dan peningkatan daya saing industri nasional.
Potensi pasar yang besar turut menjadi alasan perlunya peningkatan kemampuan industri. Sektor furnitur menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari 736,21 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat posisi pada aspek desain dan keberlanjutan. Untuk mencapai sasaran tersebut, industri membutuhkan kombinasi antara sumber daya manusia, bahan baku, kreativitas, teknologi, serta sistem produksi yang mampu memenuhi tuntutan pasar internasional.
Langkah HIMKI melihat langsung perkembangan manufaktur di China menjadi salah satu upaya untuk memperkecil jarak teknologi tersebut. Dengan membuka akses terhadap mesin, sistem produksi, investasi, dan mitra internasional, industri furnitur Indonesia diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk sekaligus mempertahankan karakter khas yang menjadi kekuatan utamanya. []
Redaksi01
