Bursa Asia Berguguran Saat Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi Naik
JAKARTA – Bursa saham Asia menghadapi tekanan pada perdagangan Senin (14/09/2026) setelah lonjakan harga minyak mentah memperbesar kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral utama. Sentimen tersebut mendorong investor mengurangi aset berisiko, sementara harga minyak Brent menembus US$107 per barel akibat meningkatnya ancaman terhadap pasokan energi global.
Harga minyak Brent tercatat naik 2,6 persen menjadi US$107,36 per barel setelah sepanjang pekan sebelumnya melonjak hampir 9 persen. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 2,4 persen menjadi US$102,48 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah serangkaian serangan baru terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Teluk memunculkan kekhawatiran mengenai kelancaran pasokan energi. Risiko tersebut bertambah setelah terjadi serangan terhadap jaringan pipa minyak Arab Saudi serta meningkatnya aktivitas kelompok Houthi di Yaman.
Situasi geopolitik itu turut memengaruhi prospek jalur perdagangan energi. Pertemuan Iran dengan negara-negara Arab Teluk yang sedianya berlangsung di Oman untuk membahas kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz ditunda.
Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb merupakan jalur strategis dalam perdagangan energi dunia. Ancaman terhadap pelayaran di kedua kawasan tersebut membuat pasar memperkirakan harga minyak berpotensi bertahan tinggi dalam waktu yang cukup lama sehingga risiko tekanan inflasi global kembali meningkat.
Tekanan terhadap bursa terlihat di sejumlah pasar saham utama Asia. Indeks Nikkei Jepang turun 1,7 persen, sedangkan indeks saham Korea Selatan merosot 3,3 persen. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga terkoreksi 0,8 persen.
Sentimen negatif turut menjalar ke pasar berjangka Eropa. Kontrak EUROSTOXX 50 turun 0,5 persen, DAX melemah 0,4 persen, dan FTSE terkoreksi 0,1 persen. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 turun 0,5 persen dan Nasdaq 100 melemah 1,1 persen.
Tekanan terhadap pasar saham semakin kuat karena investor bersiap menghadapi kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Data inflasi konsumen AS yang dirilis pada Jumat pekan sebelumnya dinilai cukup tinggi sehingga pasar memperkirakan peluang 86 persen Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan Rabu mendatang.
Pasar juga memperkirakan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Desember. Jika terjadi, langkah tersebut akan menjadi kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak pertengahan 2023.
“Kami kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini, pada September dan Desember,” kata Michael Feroli, Kepala Ekonom AS JPMorgan, sebagaimana diberitakan Kontan, Senin (14/09/2026).
Menurut Feroli, keputusan The Fed akan menjadi perhatian penting bagi kredibilitas bank sentral AS, terutama jika kebijakan yang ditempuh tidak sejalan dengan komunikasi sebelumnya.
“Apakah langkah tersebut hanya merupakan kalibrasi terbatas atau menjadi awal dari siklus kenaikan yang lebih panjang akan bergantung pada data yang masuk,” ujar Feroli.
Selain prospek suku bunga, investor mencermati kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 4,967 persen setelah surat utang tersebut mengalami tekanan jual dalam beberapa pekan terakhir.
Pada pekan sebelumnya, imbal hasil Treasury tenor dua tahun melonjak 26 basis poin, sedangkan tenor 10 tahun meningkat 19 basis poin. Kenaikan imbal hasil obligasi dapat memberikan tekanan terhadap valuasi saham karena meningkatkan biaya pendanaan dan membuat aset berbunga menjadi relatif lebih menarik.
Ben Snider, Kepala Strategi Ekuitas AS Goldman Sachs, menilai kinerja laba perusahaan masih dapat menjadi penopang pasar saham Wall Street meskipun biaya pinjaman meningkat.
“Pasar saham biasanya kesulitan ketika The Fed mulai menaikkan suku bunga, tetapi kami memperkirakan pasar bullish masih akan berlanjut,” katanya.
Goldman Sachs mencatat indeks S&P 500 rata-rata turun 2 persen dalam tiga bulan setelah dimulainya tujuh siklus kenaikan suku bunga dalam beberapa dekade terakhir. Namun, dalam 12 bulan setelah kenaikan suku bunga pertama, indeks tersebut justru mencatat rata-rata kenaikan 9 persen.
Perhatian investor juga tertuju pada Bank of Japan (BOJ). Pasar memperkirakan peluang sekitar 76 persen BOJ menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen dalam pertemuan Jumat mendatang.
BOJ diperkirakan memberikan sinyal hawkish mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan lanjutan. Bank sentral Jepang masih menghadapi tantangan menjaga stabilitas yen setelah intervensi pasar sebelumnya membantu menopang mata uang tersebut dari level terendah dalam 40 tahun.
Di pasar valuta asing, dolar AS berada di level 153,49 yen. Posisi tersebut mencerminkan pelemahan dolar sekitar 4 persen dalam dua pekan terakhir dari level tertinggi Juli yang mencapai 163,99 yen.
Euro relatif stabil di US$1,1592 setelah menemukan dukungan di sekitar US$1,1570 pada Jumat sebelumnya. Pound sterling juga bergerak datar di US$1,3522.
Sementara itu, Bank of England (BoE) diperkirakan mempertahankan suku bunga pada level 3,75 persen dalam pertemuan Kamis mendatang. Keputusan tersebut masih berpotensi diwarnai perbedaan pandangan di antara para pengambil kebijakan.
Kenaikan imbal hasil obligasi juga berdampak terhadap pasar emas. Harga emas turun 0,3 persen menjadi US$4.336 per ons troi karena kenaikan imbal hasil membuat aset yang tidak memberikan bunga tersebut menjadi relatif kurang menarik bagi investor. []
Redaksi01
