Laundry Menjamur di Daerah, Kementerian UMKM Dorong Pemetaan Pasar
JAKARTA – Pertumbuhan bisnis laundry yang semakin luas di berbagai daerah mulai menjadi perhatian Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pemerintah mengingatkan pelaku usaha agar ekspansi tidak hanya mengejar penambahan jumlah gerai, tetapi juga memperhitungkan kapasitas pasar dan tingkat persaingan di setiap wilayah.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan pertumbuhan usaha yang terkonsentrasi di wilayah tertentu dapat meningkatkan persaingan hingga memicu kanibalisasi pasar. Karena itu, Asosiasi Laundry Indonesia (ASLI) bersama asosiasi lainnya didorong melakukan pemetaan sebaran usaha dan potensi pasar sebagai dasar pengembangan bisnis yang lebih terukur.
“Laundry sudah menjadi tren gaya hidup baru di masyarakat. Kita melihat hampir di semua daerah ada usaha laundry. Ini menunjukkan bahwa prospeknya positif dan terus berkembang,” ujar Maman saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-11 ASLI di Jakarta, Minggu (13/09/2026).
Menurut Maman, bertambahnya jumlah pengusaha belum tentu otomatis meningkatkan pendapatan apabila kapasitas pasar di suatu daerah tidak sebanding dengan jumlah usaha yang beroperasi. Pemetaan dibutuhkan untuk mengetahui wilayah yang masih memiliki ruang pertumbuhan sehingga ekspansi dapat diarahkan secara lebih proporsional.
“Jangan hanya mendorong pengusaha membuka laundry, tetapi juga perlu melihat dan mengatur sebarannya. Kalau di satu wilayah sudah terlalu banyak, pengusaha baru dapat diarahkan ke wilayah lain yang masih memiliki potensi. Dengan begitu, semua bisa tumbuh dan bertahan,” katanya sebagaimana diberitakan Hariandialog, Minggu, (13/09/2026).
Maman menilai keberlanjutan sektor laundry tidak hanya berkaitan dengan pemilik usaha. Rantai ekonomi yang terbentuk juga melibatkan pemasok bahan, penyedia peralatan, pekerja, hingga berbagai pihak yang mendukung operasional bisnis tersebut.
Karena itu, pemerintah menilai menjaga keberlangsungan satu unit usaha dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap penyerapan tenaga kerja dan aktivitas ekonomi di daerah.
“Ketika kita menghidupkan satu usaha, yang hidup bukan hanya satu orang. Usaha tersebut dapat menyerap dua, tiga, lima, bahkan lebih banyak tenaga kerja. Jadi ketika kita menjaga keberlangsungan usaha laundry, kita juga menjaga kehidupan orang-orang yang bekerja di dalamnya,” ujar Maman pula.
Selain persoalan sebaran usaha, pelaku bisnis laundry juga menyampaikan kebutuhan pembiayaan untuk memperkuat dan mengembangkan usaha. Aspirasi tersebut disampaikan pengusaha laundry asal Riau sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ASLI Riau Kabul Santosa dalam sesi dialog.
Merespons kebutuhan tersebut, Kementerian UMKM akan memfasilitasi asosiasi laundry dengan perbankan yang menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Langkah tersebut ditujukan untuk memperluas pilihan pembiayaan bagi pelaku usaha sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kami akan memfasilitasi asosiasi dengan bank-bank penyalur KUR. Ini akan segera ditindaklanjuti oleh tim kami bersama asosiasi,” tegasnya.
Fasilitasi pembiayaan diharapkan dapat membantu pelaku usaha memenuhi kebutuhan pengembangan bisnis tanpa mengabaikan aspek perencanaan dan kemampuan usaha. Pemerintah juga akan mengkaji aspirasi pelaku UMKM mengenai regulasi serta pendampingan usaha dan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait sesuai kewenangannya.
Maman menegaskan penguatan sektor laundry akan ditempatkan sebagai bagian dari agenda pemberdayaan UMKM. Pertumbuhan usaha, menurut dia, perlu berjalan beriringan dengan kemampuan membaca pasar, tata kelola usaha, akses pembiayaan, dan ekosistem yang mendukung keberlanjutan bisnis.
“Kementerian UMKM siap memberikan pelayanan dan dukungan kepada teman-teman yang bergerak di sektor laundry. Ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk memastikan UMKM dapat tumbuh, berkembang, dan berkelanjutan,” tandas Maman. []
Redaksi01
