Bursa Asia Menguat, Kospi Melonjak 2,41 Persen pada Jumat Pagi

0
iewsEuPZDB

JAKARTA – Indeks saham Asia bergerak menguat pada Jumat (16/10/2026) pagi setelah investor memanfaatkan penurunan harga saham untuk kembali masuk ke pasar di tengah kekhawatiran terhadap valuasi perusahaan teknologi dan prospek kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Indeks Kospi Korea Selatan mencatat kenaikan terbesar di antara sejumlah indeks utama yang dipantau, yakni 2,41 persen.

Mengutip data Bloomberg pada pukul 08.28 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,88 persen atau 1.225,74 poin ke level 65.636,88. Hang Seng Hong Kong naik 1,08 persen menjadi 24.321,45, sedangkan Taiex Taiwan menguat 0,69 persen ke 47.255,93.

Penguatan juga terjadi pada Kospi yang bertambah 133,64 poin ke 5.690,23, serta indeks ASX 200 Australia yang naik 0,74 persen ke 8.783,90. Indeks Straits Times Singapura bergerak tipis, naik 0,02 persen ke 5.404,93. Sebaliknya, FTSE Malaysia melemah 0,46 persen ke 1.616,04, menjadi salah satu indeks yang bergerak berlawanan arah dengan mayoritas pasar regional.

Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia Pasifik menguat 1 persen. Kenaikan Kospi terjadi setelah indeks tersebut sebelumnya merosot ke level terendah sejak April, sehingga membuka ruang bagi investor untuk membeli saham pada harga yang lebih rendah.

Meski demikian, keberlanjutan penguatan bursa Asia masih bergantung pada meluasnya kenaikan ke sektor-sektor di luar perusahaan teknologi besar. Selama beberapa waktu terakhir, saham teknologi dan perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan menjadi salah satu penopang utama pasar, tetapi tingginya valuasi juga memunculkan kekhawatiran investor.

“Setelah kenaikan pesat saham AI dalam beberapa bulan terakhir, saham-saham berbasis nilai menjadi terlalu murah, sementara saham-saham berbasis teknologi menjadi sangat mahal di tengah hiruk pikuk kecerdasan buatan,” kata Brian Frank, presiden sekaligus manajer portofolio di Frank Funds, sebagaimana diberitakan Kontan, Jumat (16/10/2026).

Di Indonesia, perhatian pelaku pasar tertuju pada langkah penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengumumkan konsultasi mengenai reklasifikasi pasar saham Indonesia. Proses tersebut membuka kemungkinan penurunan klasifikasi Indonesia menjadi standalone market atau pasar mandiri, yang berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar saham domestik.

Selain perkembangan pasar saham, investor juga mencermati hubungan perdagangan China dan Uni Eropa. Uni Eropa dikabarkan tengah menyiapkan kekuatan perdagangan baru yang dapat membatasi akses ke pasar tunggalnya sebagai bagian dari upaya mengurangi defisit perdagangan dengan China.

Pergerakan indeks pada Jumat pagi menunjukkan adanya pemulihan setelah tekanan jual, tetapi belum memastikan bahwa tren penguatan akan bertahan. Investor masih perlu mencermati valuasi saham teknologi, perkembangan kebijakan perdagangan internasional, serta keputusan terkait klasifikasi pasar Indonesia untuk menilai arah pergerakan saham berikutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *