Harga Minyak Terkoreksi Tipis, Ancaman Gangguan Pasokan Belum Hilang

0
Minyak-mentah

JAKARTA – Risiko gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah mendorong harga minyak dunia berpotensi menutup pekan ini di zona kenaikan, meski harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) terkoreksi tipis pada Jumat pagi, 16 Oktober 2026. Ketidakpastian arus pengiriman melalui Selat Hormuz dan tertundanya pelepasan cadangan darurat menjadi faktor yang membayangi pasar energi global.

Pada pukul 07.31 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November 2026 di New York Mercantile Exchange tercatat US$97,55 per barel. Angka tersebut turun 0,43 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya yang mencapai US$97,97 per barel.

Koreksi harian itu belum menghapus kecenderungan kenaikan harga sepanjang pekan. Minyak mentah Brent, yang menjadi salah satu acuan utama pasar internasional, diperdagangkan mendekati US$106 per barel dan menguat hampir 1 persen selama sepekan.

Mengutip Bloomberg, ketidakpastian mengenai pemulihan aliran minyak fisik dari Teluk Persia meningkat di tengah perkembangan konflik di kawasan tersebut. Komando Pusat Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa kapal kontainer yang tenggelam di Selat Hormuz pada pekan ini terkena proyektil Iran.

Risiko geopolitik tersebut turut memengaruhi pergerakan dua acuan minyak dunia. Kenaikan harga WTI pada pekan ini melampaui penguatan Brent sehingga mempersempit selisih harga keduanya. Penurunan biaya pengiriman minyak mentah dari AS juga mendorong permintaan terhadap minyak tersebut.

Di sisi pasokan, Badan Energi Internasional (IEA) telah menyepakati pelepasan 100 juta barel minyak dari cadangan darurat. Namun, pelepasan yang masih tertunda akibat intervensi pada Maret membuat tambahan pasokan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pasar.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump berupaya menekan kenaikan harga bensin dan solar yang terdampak perang antara AS dan Iran. Upaya tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan semakin mengganggu distribusi energi.

“Konflik kemungkinan akan meningkat,” kata analis Eurasia Group dalam sebuah catatan, sebagaimana diberitakan Kontan, Jumat (16/10/2026). Analis tersebut memperkirakan peluang peningkatan intensitas konflik naik dari 35 persen menjadi 65 persen.

Perkembangan konflik dan kepastian distribusi minyak akan menjadi faktor penting bagi arah harga energi selanjutnya. Jika gangguan pasokan berlanjut, tekanan kenaikan harga berpotensi bertahan dan turut memengaruhi biaya bahan bakar serta perekonomian global. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *