Bursa Asia Menguat Tipis Usai The Fed Naikkan Suku Bunga

JAKARTA – Bursa saham Asia bergerak menguat tipis pada perdagangan Kamis, 17 September 2026, sehari setelah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Penguatan pasar Asia berlangsung meski Wall Street ditutup melemah dan investor masih mencermati peluang kenaikan suku bunga lanjutan untuk meredam inflasi.

Pada pukul 08.18 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang naik 85,89 poin atau 0,15 persen menjadi 64.020,62. Indeks Korea Composite Stock Price Index (Kospi) juga menguat 48,74 poin atau 0,73 persen ke level 6.767,80.

Penguatan turut terjadi pada indeks S&P/ASX 200 Australia yang naik 32,26 poin atau 0,37 persen menjadi 8.730,40. Sementara itu, Straits Times Index Singapura bertambah 24,98 poin atau 0,44 persen.

Berbeda dengan sejumlah pasar tersebut, indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI bergerak turun tipis 0,49 poin atau 0,03 persen menjadi 1.678,72.

Secara keseluruhan, bursa saham Asia naik sekitar 0,1 persen pada awal perdagangan. Kenaikan terutama ditopang pergerakan positif indeks acuan Jepang dan Korea Selatan, meski pelaku pasar masih menghadapi ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

The Fed pada Rabu, 16 September 2026, memutuskan menaikkan target suku bunga federal funds sebesar 0,25 poin persentase menjadi kisaran 3,75-4 persen. Keputusan tersebut disetujui secara bulat oleh 12 anggota Federal Open Market Committee (FOMC).

Keputusan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak 2023. Dalam proyeksinya, mayoritas pejabat The Fed masih memperkirakan adanya kenaikan tambahan pada tahun ini, sehingga investor mulai memperhitungkan seberapa ketat kebijakan moneter Amerika Serikat ke depan.

Perhatian pasar terhadap kebijakan lanjutan The Fed turut tercermin dari pergerakan Wall Street. Indeks saham Amerika Serikat melemah setelah keputusan tersebut karena pelaku pasar mencermati sinyal bahwa kebijakan suku bunga masih dapat diperketat untuk mengendalikan inflasi.

“The Fed tidak punya pilihan selain menaikkan suku bunga atau menghadapi risiko aksi jual pasar obligasi yang jauh lebih besar seperti yang terlihat dari hasil voting 12-0,” tulis Byron Anderson, kepala divisi pendapatan tetap di Laffer Tengler Investments seperti dikutip Bloomberg.

“The Fed sedang berupaya menenangkan pasar obligasi daripada memberi sinyal siklus kenaikan suku bunga.”

Investor selanjutnya akan mencermati perkembangan inflasi, pasar tenaga kerja, imbal hasil obligasi, serta komunikasi pejabat The Fed untuk memperkirakan arah kebijakan moneter berikutnya. Kondisi tersebut berpotensi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar saham dan obligasi global dalam perdagangan selanjutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *